Ilmu hitam dan ilmu putih vs Kebenaran (Kisah nyata: DR. dr. RM. Tedjo Oedono Oepomo)

Aku dilahirkan di dalam lingkungan keluarga keraton. Dan keluargaku adalah trah keluarga dukun keraton. Sejak kecil aku sangat mengagumi ilmu-ilmu kadigdayan gaib yang dimiliki oleh para sesepuh keluarga. Kakekku memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ia bisa menghilang. Bahkan hadir di empat tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Beliau juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan tenaga gaibnya.

Keluarga Dukun Keraton

Di lingkungan keraton, sejak usia sekolah dasar aku mendapatkan guru-guru khusus. Mereka mengajarkan tentang berbagai ilmu agama dan falsafah Jawa. Salah satunya adalah ilmu kebatinan. Aku sangat tertarik dan tekun mempelajari ilmu-ilmu ini. Selain kekagumanku pada misteri keajaibannya, melalui ilmu-ilmu ini aku juga ingin hidup mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Ilmu-ilmu Perdukunan

Di dalam ilmu perdukunan dan kebatinan dikenal adanya empat tingkatan. Yaitu tingkat kasantosan, kadigdayan, kawijayan dan kasampurnan.

Kasantosan berarti menguasai berbagai ilmu dasar seperti mendapatkan dan memelihara jimat-jimat, ilmu kekebalan dan gendam. Kadigdayan, selain menguasai ilmu dasar, juga menguasai ilmu yang lebih tinggi lagi. Seperti ilmu santet, ilmu terawang. Berikutnya adalah kawijayan. Di tingkat ini seseorang akan memiliki kemampuan rogoh sukma dan transfer roh-roh. Sedang kasampurnan adalah tingkatan tertinggi dalam ilmu perdukunan. Orang itu menyatu dengan roh yang dia ikuti dan ini kekuatannya sangat tinggi sebanding dengan roh yang dia ikuti itu.

Untuk mendapatkan ilmu-ilmu ini, tidaklah mudah jalan dan caranya. Berbagai-bagai syarat dan ritual harus dijalani dengan berbagai resikonya. Banyak yang gugur sebagai murid perdukunan dan tidak sedikit yang menjadi gila. Karena sulitnya itu, aku menganggap inilah jalan “Tuhan” yang sejati.

Menjadi Murid dan Guru

Minatku belajar okultisme atau ilmu perdukunan makin bergairah dan aku termasuk seorang anak yang dianggap sangat berbakat. Hal ini tidak mengherankan. Karena sejak dalam kandungan aku telah di “doa” kan oleh kedua orang tuaku dan para sesepuh keluarga. Dengan harapan, aku kelak menjadi orang yang memiliki kadigdayan atau memiliki kemampuan yang tinggi
dalam ilmu kabatinan.

Berbagai ilmu telah aku kuasai sejak masa kecilku, diantaranya ilmu santet, ilmu pellet, ilmu terawang, ilmu gendam, telepati atau ilmu sirep, kekebalan dan lain-lain. Oleh sebab itu, aku menjadi anak yang sangat popular, disegani dan ditakuti di lingkunganku pada waktu itu. Inilah yang menjadi akar dari adanya rasa kesombongan dalam diri seseorang yang belajar ilmu kebatinan. Diakui atau tidak diakui, ia akan merasa lebih super daripada manusia-manusia lainnya, demikian juga keadaanku pada waktu
itu.

Selain menjadi murid, aku juga seorang guru. Aku mengajarkan ilmu kebatinan ini kepada murid-muridku sendiri. Dan murid-mu itu rata-rata umurnya lebih tua dari aku bahkan ada orang-orang yang sudah lanjut usia. Waktu itu aku masih duduk di kelas 5 SD, namun secara ilmu aku dianggap lebih tua. Dan ini terus berlangsung sampai aku dewasa dan kuliah di fakultas kedokteran.

Mempraktekkan Ilmu

Bagi seseorang yang telah mendapatkan ilmu, mempraktekkan ilmunya adalah sesuatu kebanggaan dan kepuasan tersendiri. Waktu kecil aku telah mempraktekkan ilmu santetku. Suatu hari aku dikecewakan dan dicaci maki oleh seseorang penjahit pakaian. Karena tidak terima atas perlakuannya ini, maka aku santet orang itu.

Yaitu dengan menempatkan seekor kodok dalam baskom yang berair. Melalui mulut kodok itu aku masukan satu balon udara kedalam perutnya dengan ujung balon menjulur keluar. Aku meditasi dengan membaca mantra-mantra sambil memandang foto orang itu, balon aku tiup, maka perut kodok itu menjadi menggelembung. Kemudian aku ikat dan aku lepaskan kodok itu di baskom tadi. Di rumahnya, penjahit itu tiba-tiba perutnya menggelembung dan merasakan kesakitan. Dia telah kena ilmu santetku. Dia keluar masuk rumah sakit sampai uangnya habis tapi penyakitnya tidak ditemukan dan tidak sembuh-sembuh. Kemudian dia pergi ke seorang dukun.

Dukun itu memberitahu si penjahit agar datang ke rumah seorang anak yang pernah dia caci maki untuk minta maaf. Karena anak kecil itu adalah seorang dukun. Ketika penjahit itu datang dan minta maaf. Mudah saja bagiku menyembuhkan orang itu, aku cabut balon itu dari katak dan orang itupun sembuh. Itulah keasyikannya.

Ilmu lain yang juga aku praktekkan adalah ilmu gendam. Jika aku ingin makan durian, aku tidak perlu membelinya. Aku datangi saja penjual duren. Kemudian aku tepuk orang itu, maka dia akan memberikan duren-duren yang aku minta tanpa membayar. Nanti kalau aku sudah pergi, penjual itu akan kebingungan karena beberapa durennya tidak ada. Kemudian dia sadar bahwa
dia telah kena tipu dengan menggunakan ilmu gendam, istilah umumnya adalah ilmu tepuk.

Aku juga punya ilmu untuk menebak nomor buntutan. Tinggal siapa yang membayar lebih banyak. Bandarnya atau pembelinya. Karena bagiku mudah saja menebak nomor yang akan keluar. Dari sini aku bisa mendapatkan uang banyak sekali. Maka sejak kecil aku menjadi tidak menghormati dan meremehkan orang tua, karena sudah bias mencari uang sendiri. Bahkan bias mengambil uang yang disimpan orang tua di almari besi yang terkunci. Karena aku punya tuyul-tuyul. Tinggal memerintahkan tuyul itu untuk mengambil uang. Dari sini seharusnya sudah dapat aku sadari, sebenarnya siapa yang aku ikuti. Namun karena terpesona dengan kemampuan-kemampuan gaib itu, maka hati menjadi tertutup dan tidak mau menanyakan lagi siapa sebenarnya di balik ilmu-ilmu itu.

Keluar Dari Ilmu Hitam

Dengan seringnya mempraktekan ilmu gendam dan beberapa ilmu lainnya, lama-lama timbul kesadaran dalam diri. Aku ini dari keluarga terhormat dan bapak ku adalah seorang professor di perguruan tinggi terkenal dan tokoh masyarakat. Sebagai anaknya perasaanku menjadi tidak enak dengan perbuatan-perbuatan ku itu. Kemudian aku keluar dari perguruan ilmu hitam masuk ke perguruan ilmu putih.

Di dalam perguruan ilmu putih ini, aku harus mengalami pelepasan terhadap ilmu-ilmu hitam yang aku miliki. Inilah keanehannya, aku belajar pada sumber yang sama, tetapi harus kelepasan ketika mengmbil jurusan berbeda. Sebenarnya sumber dari dua ilmu ini adalah sama, yaitu dunia roh-roh. Maka pada keadaan tertentu seseorang itu bisa menyandang ilmu hitam sekaligus
ilmu putih. Dia bisa menyembuhkan seseorang tapi juga bisa mencelakai seseorang dengan ilmu santetnya. Perbedaan yang nyata adalah pelajaran di perguruan ilmu putih ini adalah hal-hal kebaikan, kesabaran dan ketekunan. Juga hal-hal untuk saling mengasihi, mengasuh dan mengasah diantara para murid perguruan sangat dijunjung tinggi. Disini tidak ada pertunjukan untuk pamer kekuatan, atau pamer kadigdayan. Semua dipakai untuk kebaikan, untuk kesembuhan sesamanya. Sehingga kami merasa makin mantap bahwa inilah jalan Tuhan itu. Di tempat ini aku merasa menemukan yang kucari selama ini, yaitu mendekatkan diri pada Tuhan yang sejati dan Tuhan yang benar. Karena jalannya memang benar-benar sulit. Untuk naik satu tingkat saja, butuh perjuangan yang sangat keras dan waktu yang lama, dengan berbagai syarat dan ritual. Di perguruan ini, aku sampai pada tingkat kawijayan. Ditingkat ini aku bisa bercakap-cakap dengan roh-roh yang aku panggil. Juga menguasai ilmu transfer roh. Yaitu bisa membuat orang gila menjadi waras atau orang waras dijadikan gila dengan cara mengirim dan mengambil roh dari seseorang. Aku juga menguasai ilmu terawang roh. Bisa menebak keadaan seseorang dengan memandang orang itu. Juga ilmu rogoh sukmo. Dengan duduk semedi ke kamar, aku bisa melihat keadaan dan keramaian kota. Dan berbagai ilmu aku dapatkan, sehingga aku merasa benar-benar diatas manusia normal. Maka sering disebut sebagai paranormal.

Dan akupun dicalonkan menjadi pengganti kepala dukun. Disini aku semakin merasa menjadi manusia super dan memandang remeh agama dan Tuhan. Pendapatku waktu itu, apa itu agama? Hanya omong ini omong itu saja, tapi tak ada apa-apanya. Sedangkan di perdukunan kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan dengan kuasa gaib dan itu nyata. Aku menganggap Tuhannya agama-agama itu tuhan yang palsu. Sedang tuhan yang aku ikuti itu tuhan yang sejati!

Peristiwa di Atas Gunung

Suatu hari kami sepakat berlima untuk mengadakan semedi di atas gunung “Selo Kemloso”. Gunung yang terletak di antara Gunung Merapi, Gunung Turgo dan Gunung Plawangan di Jawa Tengah. Beberapa hari kami telah berhasil semedi dan dialog dengan roh-roh yang kami inginkan. Kami merasa senang sekali tapi juga merasakan perut lapar. Kemudian malam itu kami berlima kembali sepakat berdoa mohon kepada “Tuhan” yang maha kuasa itu, untuk mendapatkan makanan dan minuman. Ajaib sekali, tiba-tiba di depan kami tersaji lima piring nasi lengkap dengan lauk pauk dan minumannya. Wah kami merasa senang luar biasa. Berarti tidak perlu masak, bisa menikmati makanan yang lezat.

Kemudian pagi harinya kami turun dari gunung untuk pulang kembali ke kota. Ketika kami tiba di sebuah kampong di lereng gunung, kami melewati sebuah rumah. Sepertinya tadi malam baru saja diadakan pesta perkawinan. Pagi itu, mereka telah selesai menghitung piring-piring untuk dikembalikan. Mereka bingung mencari piring dan gelas yang hilang masing-masing sebanyak lima buah. Sudah dicari-cari tapi tidak juga ketemu. Betapa kagetnya kami, ternyata piring dan gelas yang hilang itu persis dengan piring dan gelas yang kami pakai untuk makan di atas gunung dan jumlahnya lima buah. Hari itu, perasaanku benar-benar terpukul. Bagaimana bisa “tuhan” yang aku sembah dan aku ikuti dengan susah payah, ternyata “mencuri” makanan.
Berarti “tuhan” ku itu pencuri. Hatiku benar-benar hancur. Keinginan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang benar dan sejati, ternyata salah alamat.

Beberapa peristiwa beruntun sangat mengguncang hatiku. Salah satu guruku yang berilmu tinggi telah menceburkan diri ke dalam sumur dan mati. Dan itu sebagai tumbal bagi ilmu yang dia punyai. Kematian paman ini mulai menggores kesadaranku akan jalan yang aku tempuh selama ini. Teman seperguruan kakekku yang juga berilmu sangat tinggi, menjelang kematiannya
sekujur tubuhnya membusuk dan bentuknya seperti monster. Berbagai penyakit yang pernah ia sembuhkan seakan semua ikut menempel ke dalam tubuhnya. Mengerikan sekali, satu bulan lebih didoakan baru bisa meninggal dunia. Aku melihat nasib kakekku yang seperti itu, aku sendiri menjadi sangat ngeri dan takut. Seorang yang sakti luar biasa, akhir hidupnya kok sangat
mengenaskan. Sedangkan mereka adalah orang-orang yang sangat aku kagumi sejak masa kecil.

Maka aku menemui guruku. Tiba di padepokan aku melihat mimik wajah guru nampak sangat sedih. Dan beliau mengatakan bahwa hari Jumat minggu depan ia akan meninggal dunia. Luar biasa bisa tahu hari kematiannya. Tetapi mengapa beliau sangat bersedih? Beliau mengungkapkan kesedihannya, karena tidak tahu bagaimana nasibnya setelah kematiannya. Inipun membuat aku semakin terpukul. Guru saja tidak tahu nasibnya setelah kematiannya, apalagi aku. Dan waktu aku Tanya kepada roh-roh yang selama ini mengaku sebagai utusan Tuhan, mereka tidak mau menjawab apa yang terjadi setelah kematian. Aku merasa benar-benar tertipu.

Ditaklukan Oleh Penjual Bakmi

Tujuan hidupku tiba-tiba gelap gulita. Kekagumanku pada para sesepuh yang berilmu tinggi rontok karena akhir hidup mereka. Dan “tuhan” yang aku ikuti ternyata mencuri makanan. Ilmu yang aku miliki dengan roh-roh gaibnya tidak mampu member jawaban tentang kehidupan setelah kematian. Jalan terang yang aku inginkan ternyata ujungnya menuju maut. Aku benar-benar frustasi, kubuang jimat-jimat, dan aku putuskan, jika Tuhan yang sejati itu sulit dicari, maka aku akan menjadi orang atheis, tidak
percaya pada Tuhan lagi. Ditengah kebingungan dan kegalauan hati, aku tumpahkan dengan naik sepeda mengelilingi kota tanpa tujuan yang pasti. Dua hari dua malam aku bersepeda untuk menumpahkan segala kekecewaan hatiku. Sampai di suatu tempat, aku berhenti di warung bakmi pinggir jalan untuk makan bakmi rebus. Waktu penjual itu menghidangkan bakmi, dia
bertanya “Bapak sedang mencari kebenaran ya?”

Aku sangat terkejut dengan pertanyaan penjual bakmi ini. Biasanya akulah yang tahu dan bisa menebak persoalan orang lain, tetapi mengapa penjual bakmi ini malah bisa mengetahui keadaan hatiku? Dan ketika aku terawang dia, ilmuku tidak bisa menembus untuk “melihat” keadaan dia. Dilihat secara nalar, penjual bakmi ini tidak ada keistimewaan apa-apa. Dia hanyalah seorang tua setengah baya, kurus dan keturunan cina. Ternyata dia seorang Kristen.

Waktu itu aku tidak tahu kalau orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dalam dirinya ada Roh Allah. Sehingga tidak tembus di terawang dan juga tidak mempan disantet. Dia memberiku sebuah kitab Injil untuk dibaca. Dia bilang dari buku ini
aku bisa menemukan apa yang aku cari. Karena aku merasa kalah, maka aku terima apa yang dia berikan.

Tersingkap

Aku baca dan teliti kitab itu dengan seksama. Sebelumnya aku tidak pernah dan tidak boleh membaca buku Injil. Karena dianggap itu bukunya orang kafir, kitab palsu. Sekarang alasan itu malah membuat aku makin penasaran, mengapa kok tidak boleh membacanya. Setelah aku baca buku Injil itu, aku menemukan satu nama yang luar biasa, yaitu nama Yesus Kristus. Pribadi ini berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:16a). Selama ini yang aku terima hanyalah petunjuk jalan atau yang menunjukan ada jalan kepada Allah yang sejati. Dan ketika aku ikuti ternyata tidak bisa menemukan jalan itu. Disuruh ini itu, tirakat ini itu, melakukan ini itu tapi jalan ini bukan makin terang malah makin gelap dan akhirnya tanpa
jawaban yang pasti.

Tetapi pribadi Yesus berkata: Akulah Jalan! Akulah Kebenaran! Akulah Hidup! Bagiku ini suatu pernyataan yang luar biasa. Dia tidak menunjuk pada sesuatu. Tetapi Dia menunjukan diri-Nya? Itulah jalan dan kebenaran dan Hidup kekal.

Siapakah pribadi ini yang berani mengatakan seperti itu? Belum pernah aku membaca atau mendengar seorang tokoh dunia sehebat apapun yang berani mengatakan seperti itu. Siapa pribadi ini, yang oleh orang Kristen dianggap sebagai Tuhannya? Dulu aku hanya mendengar tentang Yesus yang banyak melakukan mujizat. Maka aku menyebutnya sebagai dukun Israel. Tapi
kali ini aku membaca langsung kisahNya. Makin aku baca makin penasaran dibuatnya. Bahkan tentang kematian, Yesus memberi jawaban yang pasti: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya? .” (Yohanes 11:25,26).

Jaminan kehidupan kekal bagi orang yang percaya kepada-Nya. Guruku tidak bisa menjawab, roh-roh yang aku ikuti tidak memberikan jawaban. Kakekku dan pamanku selain tidak punya jawaban juga akhir hidupnya sangat mengenaskan. Tetapi dari buku Injil ini, menyingkap dan memberi jawaban apa yang menjadi kebutuhan dan pertanyaan manusia yang mencari Tuhan yang
hidup dan yang sejati. Dan buku Injil mengungkapkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Firman Allah yang menjelma menjadi manusia. Hidup di bumi sebagai manusia Allah untuk menyatakan kasih Allah akan dunia ini, menyatakan kuasanya, bahkan rela mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Bukan mati untuk dikubur selamanya.

Tetapi tiga hari bangkit kembali dan naik ke surga. Dan dari surga mengkaruniakan Roh Kudus yaitu Roh Yesus Kristus itu sendiri kepada setiap orang yang mau percaya kepada-Nya. Luar biasa, inilah yang disebut tingkat kasampurnan dalam ilmu perdukunan, yaitu menyatunya roh manusia dengan roh “Tuhan”.

Dengan Roh itu manusia menjadi ciptaan baru, menjadi memiliki hayat kekal Allah, memiliki hidup yang kekal, luar biasa. Ini benar-benar kasampurnan atau sempurna, menyatunya roh manusia dengan Roh Allah. Dan jalan-Nya begitu mudah, yaitu hanya percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya. Bagiku ini suatu yang sangat mustika. Dua bulan aku mendalami buku Injil dan membandingkannya dengan buku-buku kebatinan lainnya. Dalam kepercayaan Jawa diyakini akan datangnya Sang Ratu Adil. Dan jika seseorang menjadi pengikut ratu adil, dia akan dikatakan menjadi orang yang “Sekti tanpa aji” artinya sakti tanpa harus membawa atau mempunya ajian atau jimat-jimat. Jika seseorang masih mengandalkan jimat,
atau memegang jimat-jimat berarti orang itu belum ketemu dengan Sang Ratu Adil yang sesungguhnya.

Di buku Injil dikatakan seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus, akan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah “Barang siapa mengaku bahwa Yesus adalah anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah”
(1 Yohanes 4:15).

Maka orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dalam dirinya ada Roh Allah. Dia tidak membutuhkan jimat untuk menangkal santet dan tenung. Karena dalam diri orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dalam dirinya ada Roh Allah. Dan tidak ada orang yang mampu melawan Allah. Maka dapat dikatakan orang yang percaya Yesus menjadi orang yang sekti tanpa aji. Berarti Yeus inilah yang dimaksud sebagai Sang Ratu Adil dalam kepercayaan Jawa. Secara teori buku Injil memang lebih meyakinkan aku. Dan aku menerima kebenaran ini, tapi tetap sebagai teori.

Bertanya Kepada Roh Bima

Seperti yang dikatakan oleh penjual bakmi, aku akan menemukan kebenaran jika aku membaca buku Injil. Tetapi aku tidak bisa begitu saja menerima kebenaran dari buku itu. Meskipun itulah yang aku cari. Dan aku juga tidak mau lagi bertanya kepada manusia. Karena aku merasa diapusi terus atau tertipu terus oleh orang-orang.

Dan satu hal yang aku dapatkan di perguruan ilmu putih, roh-roh putih kalau ditanya maka dia akan menjawab. Hanya kalau ditanya tentang akhir kehidupan manusia atau kehidupan setelah kematian, roh putih tidak pernah mau menjawab, atau mengatakan keadaan yang sesungguhnya.

Waktu itu aku masih percaya bahwa roh putih tidak akan berbohong. Karena sudah mencapai tingkat ilmu kawijayan, maka aku bisa berdialog dengan roh-roh. Aku semedi untuk berkontak dengan roh yang menamakan dirinya roh Bima. Bima adalah nama tokoh dalam wayang Jawa. Dalam ilmu kebatinan, roh-roh ini mempunyai nama tokoh tertentu sesuai dengan kekuatan roh itu.
Biasanya nama tokoh sejarah ataupun tokoh pewayangan. Roh Bima inilah yang selama ini aku ikuti dan yang memberikan kekuatan gaib padaku.

Dua hal aku tanyakan pada roh Bima ini. Satu, apakah isi kitab Injil itu benar adanya? Dan yang kedua, siapa Yesus Kristus itu? Jawaban yang aku dapat dari Roh Bima adalah: Isi kitab Injil Benar Adanya. Jawaban ini sesuai dengan yang tertulis di
surat Efesus 1:13 “karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu? .” Jadi Injil adalah firman kebenaran. Yesus Kristus Adalah Roh Yang Paling Kuat Di Dunia dan Di Akherat.

Jawaban ini seperti yang tertulis di surat 1 Yohanes 4:4 b”Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” Dan ini sesuai dengan dikatakan Yesus seperti yang tertulis di Injil Matius 28:18 “Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.”

Jawaban ini membuatku tidak bisa berdalih lagi. Mau tidak mau aku harus percaya pada Injil dan juga pada Yesus Kristus. Karena berdasarkan pengalamanku selama ini roh putih tidak pernah membohongiku. Dan juga ketika aku membaca Injil dengan seksama, aku mendapatkan kebenaran-kebenaran yang selama ini tersembunyi bagiku.

Injil adalah kebenaran dari Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada orang yang bisa sampai pada Allah yang benar dan sejati (Bapa) tanpa melalui nama Yesus Kristus. “Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:
6, hanya nama Yesus Kristus inilah yang diberikan kepada manusia yang oleh-Nya, manusia dapat diselamatkan “dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” , (Kisah Para Rasul 4:12)

Lumpuh

Setelah mendapatkan jawaban dari roh itu. Maka aku menjadi mantap dan pasti. Nama Yesus itulah yang harus aku ikuti! Maka aku minta kepada roh Bima untuk aku dapat berkontak dengan Roh Yesus Kristus. Biasanya jika aku ingin kontak dengan roh-roh yang aku inginkan, maka roh Bima akan melayani dengan baik. Jika aku ingin bertemu dengan roh Nyai Roro Kidul pun akan
dikabulkan. Dengan semedi di Pantai Selatan, maka roh Nyai Roro Kidul akan muncul, sehingga aku bisa melihat dan berkontak dengan roh itu. Namun permintaanku untuk dapat kontak dengan Roh Yesus Kristus ditolak mentah-mentah, bahkan dihalang-halangi.

Sekarang aku bisa mengerti mengapa roh Bima menolak untuk aku bisa kontak dengan Roh Yesus Kristus. Memang roh itu tidak berbohong dalam memberi jawaban atas pertanyaanku. Tetapi jika berkaitan dengan keselamatan dan kehidupan kekal dia menolak bahkan menghalangi seseorang untuk mendapatkan keselamatan. Inilah tipu daya atau dusta iblis. Dia memberikan kesaktian tetapi dia menjauhkan manusia dari keselamatan kekal. Seperti yang tertulis di Injil Yohanes 8:44 “Iblislah yang menjadi bapamu?.ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab didalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”
Karena roh Bima ini menghalang-halangi aku untuk bisa berkontak dengan Roh Yesus Kristus yang adalah jalan kebenaran dan kehidupan ini, aku menjadi makin penasaran. Berarti roh ini bukan roh utusan Tuhan, sebagaimana dia mengaku selama ini. Melalui buku Injil yang aku baca, aku menjadi paham bahwa roh yang aku selama ini adalah roh-roh gelap, roh setan. Dan seperti
yang aku baca dalam kitab Injil tentang mengusir setan-setan: “tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku.” – Markus 16:17.

Maka aku lakukan saja, aku mencoba berdoa mengusir roh Bima dalam nama Tuhan Yesus. Saya katakan “Seperti yang ditulis dalam buku Injil, aku usir roh Bima dalam nama TUhan Yesus Kristus! Aku usir roh Bima dalam nama Tuhan Yesus Kristus! Amin!

Ajaib sekali, aku merasakan roh Bima itu meninggalkan tubuhku. Seperti hembusan angin segar datang dan menyapu debu-debu dalam diriku. Roh Bima itu pergi dan tidak pernah kembali lagi. Aku mendapatkan damai sejahtera yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan.

Selama berada dalam perguruan kebatinan aku belum pernah mendapatkan damai sejahtera yang seperti itu, bahkan sebaliknya lebih banyak kecemasan dan ketakutan dalam batin. Jika dibandingkan seperti bumi dengan langit. “sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah?” – Roma 8: 15.

Dalam dunia ilmu kebatinan, manakala kita mendapatkan ilmu tertentu, kita merasa senang. Tapi dibalik itu, akan begitu banyak hal yang menakutkan yang membuat hati tidak tenang. Ada banyak pantangan-pantangan yang tidak boleh kita langgar.

Jika kita melanggar maka kita akan celaka atau mati. Inilah roh perbudakan. Belum lagi adanya ancaman lawan dari perguruan yang lain. Kita setiap saat bisa diserang oleh orang lain yang ilmunya lebih tinggi dari kita, dan kita bisa celaka. Seperti pengalamanku bersama seorang teman, ketika mendapat tugas dari guru kami untuk mengambil pusaka di daerah Madiun.Di dalam bis ditengah perjalanan tiba-tiba teman sebelahku muntah darah dan mati. Itu berarti kami mendapat serangan dan temanku kena. Kamipun batal pergi ke Madiun. Hal ini menimbulkan beban dan kecemasan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang kami dapat dari ilmu kebatinan, yaitu kecemasan dan ketakutan. Saat roh Bima meninggalkan tubuh, aku seperti mendapat-kan aliran roh yang baru. Saat itu aku belum tahu bahwa itulah Roh Kudus, Roh Yesus Kristus sendiri. Namun pada waktu yang
bersamaan aku juga merasakan bahwa semua kekuatan ilmu-ilmuku telah lumpuh total. Aku tidak lagi mempunyai kemampuan paranormal, tidak lagi kebal, ilmu terawang, ilmu santet dan ilmu-ilmu yang lain telah hilang semua. Aku menjadi manusia biasa lagi.

Beberapa waktu aku merasakan suatu kegalauan dalam pikiranku. Namun pengalaman damai sejahtera itu tidak mudah dilupakan. Bahkan menjadikan kegairahan baru untuk terus dan tetap mengikuti jalan Tuhan yang hidup dan yang sejati. Yaitu Yesus Kristus Tuhan. Aku mantap mengikuti nama itu. Sesungguhnya kebutuhan manusia yang utama dan terutama adalah keselamatan jiwanya dan bukan kesaktian. Apa gunanya seseorang memperoleh kesaktian yang luar biasa dalam dunia ini, namun tidak mendapatkan keselamatan hidup di alam kekekalan. Seperti tertuls di Injil Matius 16: 26 “apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Okultisme dan Iman Kristen

Setelah mengikuti jalan Tuhan, aku mendapatkan terang dari firman Tuhan.

Di dunia ini hanya ada dua sumber kekuatan gaib, yaitu dari Tuhan atau dari Setan! Tidak ada sumber yang lain. Apapun istilahnya: ilmu hitam, putih atau abu-abu hanya ada dua sumber, dari Tuhan yang benar atau dari setan! Kenali siapa yang anda ikuti! “demikian kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia,
berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah.” – 1 Yohanes 4: 2, 3a.

Hanya di dalam Tuhan Yesus, kita ada pada tingkat kasampurnan atau sempurna. Karena siapa saja yang percaya kepada Yesus, maka Roh Allah akan menyatu dalam dirinya. Menerima Roh Allah berarti lahir menjadi anak-anak Allah. “tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus Kristus) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama
Yesus Kristus: orang-orang yang diperanakan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani, melainkan dari Allah” – Yohanes 1:12, 13. “kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa!” – Roma 8: 15b “tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu Roh dengan Dia” – 1 Korintus 6:17

Roh Yesus Kristus itulah Roh yang paling kuat. Tidak mempan santet dan tidak ada yang mampu mengalahkan. Itu juga diakui oleh orang-orang yang berada dalam ilmu perdukunan. Mereka tidak mampu melawan Roh Kudus yang berada di dalam diri orang Kristen yang betul-betul hidup di dalam Tuhan. “kamu berasal dari Allah, anak-anak Ku, dan kamu telah mengalahkan
nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.”

Di dalam dunia ini ada roh-roh yang ingin disembah oleh manusia. Dialah roh-roh gelap, yang menipu manusia dalam berbagai bentuk dan istilah. Ilmu hitam, ilmu putih, arwah orang mati dll. Semua itu sebenarnya hanyalah manifestasi dari iblis untuk menipu manusia supaya takluk dan takut pada roh-roh dunia ini. Dan ujungnya menuju maut yaitu kematian kekal di neraka. Itulah tujuan iblis menyesatkan manusia. Sungguh mengerikan. “pencuri (iblis) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan” – Yohanes 10: 10a.

“kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging (manusia), tetapi melawan? penghulu- penghulu dunia yang gelap
ini, melawan roh-roh jahat diudara” – Efesus 6:11, 12.

“ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” – Amsal 14: 12.

Orang yang percaya Tuhan Yesus, diberi kuasa untuk mengusir setan dengan segala atributnya dan menjadi orang-orang yang bebas dari belenggu kuasa gelap. Hanya nama Yesus yang berkuasa di surga dan di bumi.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” – Matius 28:18

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku,” – Markus 16:17a

Bagi saudara-saudara yang selama ini berhubungan dengan kuasa-kuasa gelap, aku menasehati dengan segala kerendahan hati, bertobatlah dan tinggalkan jalanmu itu. Kamu sedang ditipu! Percaya dan terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu. Ia akan membebaskanmu dari kegelapan, mengampuni dosa-dosamu dan memberikanmu hayat kekal-Nya, untuk kehidupan kekal.

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: Akulah terang dunia; barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” – Yohanes 6:12

“Aku (Yesus) datang supaya kamu mempunyai hidup kekal dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” – Yohanes 10: 10b

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan mensucikan kita dari segala kejahatan.” – 1 Yohanes 1:9

“dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu.” – Yohanes 10:28

Bagi orang-orang Kristen yang setengah-setengah, anda adalah makanan empuk untuk dipermainkan oleh Iblis. Jadilah kuat oleh firman Tuhan. “Tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka Ia akan lari daripadamu.” – Yakobus 4:7

“sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh,” – 1 Petrus 5:8, 9a.

Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” – Kisah Para Rasul 2:38.

“sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. ” – Roma 10:9-10.

Demikianlah kesaksianku. Masih banyak perkara yang tidak kutuliskan disini. Namun yang pasti hanya di dalam pribadi Yesus Kristus, kita dapat mencapai tujuan iman kita. Yaitu keselamatan jiwa di dunia dan di akherat Amin.

DR. dr. RM. Tedjo Oedono Oepomo (Dokter ahli THT yang juga mantan paranormal Yogyakarta)

Saat ini beliau juga berprofesi sebagai dosen Fakultas Kedokteran UGM, Bagian THT berjemaat di Gereja Yerusalem Baru, Yogyakarta.

http://doddyprayogo.wordpress.com/2011/03/19/apologetika-pembelaan-iman-katolik-terhadap-kesaksian-angelica/

 

Berikut ini adalah upayaku untuk melakukan apologetika (pembelaan iman) atas kesaksian Angelica yang dibawa Yesus ke Surga dan melihat Paus Yohanes Paulus II yang masuk neraka, di mana Yesus versi Angelica memberikan pernyataan mengenai alasan Paus Yohanes Paulus II masuk ke neraka. Kesaksian tersebut dipublikasikan di http://jesusisloveus.blogspot.com/2011/03/kesaksian-18-persiapan-dirimu-untuk.html

Revisi 1 : 20/03/11 4.42 pm – minor updates pada penomeran dan tata tulisan

Revisi 2 : 20/03/11 9.46 pm – revisi besar-besaran. Penambahan 1 bab mengenai “MARAKNYA WAHYU PRIBADI AKAN SURGA DAN NERAKA DI “PASARAN” DAN BAGAIMANA UMAT KATOLIK MENANGGAPINYA.” Koreksi bagian-bagian yang kurang tepat

Revisi 3 : 14/04/11 11.41 pm – perubahan judul di Bab 3, untuk menghilangkan keambiguan.

1. PENDAHULUAN
2. TUJUAN PENULISAN APOLOGETIKA
3. KESALAHAN TEOLOGIS ISI KESAKSIAN ANGELICA
4. SEKILAS MENGENAI PAUS YOHANES PAULUS II
5. BEBERAPA KESAKSIAN ANGELICA YANG CUKUP GANJIL MENURUT PENULIS
6. MARAKNYA WAHYU PRIBADI AKAN SURGA DAN NERAKA DI “PASARAN” DAN BAGAIMANA UMAT KATOLIK MENANGGAPINYA
7. KESIMPULAN PE
NULIS
8. SARAN PENULIS

1. PENDAHULUAN

Adapun tujuan dibuat pembelaan ini adalah karena adanya penyebarluasan situs di atas melalui sms, BBM, email, maupun facebook dan menimbulkan keresahan bagi sebagian umat Katolik awam yang membaca situs tersebut. Penulis menemukan banyak teman yang khawatir ketika membaca situs ini. Hal ini mendorong penulis untuk sadar perlunya melakukan pembelaan iman terhadap situs di atas seperti yang mengacu pada sabda Allah sendiri dalam  1 Petrus  3:15:

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”


2. TUJUAN PENULISAN APOLOGETIKA

Apologetika ini ditulis dengan sasaran khusus umat Gereja Katolik yang resah dan khawatir apakah iman yang dianut benar atau salah dan sasaran umumnya adalah umat kristiani pada umumnya dengan tujuan untuk meluruskan pandangan2 yang salah akibat kesaksian ini.

Catatan : Perlu diperhatikan lebih lanjut penulis menggunakan penggunaan kurung  berisi angka dalam pengutipan pernyataan, contoh [1], di mana referensi dapat dilihat dibagian paling bawah.


3. KESALAHAN TEOLOGIS ISI KESAKSIAN ANGELICA

3.1. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa neraka dan surga itu tidak nyata dan ada?

3.1.1. Kesaksian Angelica:

Aku menjawab, “Ya, aku tahu itu benar, tapi aku ingin tahu mengapa ia ada di sini, karena ia biasa berkhotbah kepada banyak orang!” Dan Yesus menjawab, “Ya, Putri, ia mungkin telah mengatakan banyak hal, tetapi ia tidak pernah berbicara kebenaran seperti yg ada. Ia tidak pernah mengatakan kebenaran dan mereka tahu kebenaran dan meskipun ia tahu kebenaran, ia lebih menyukai uang daripada berkhotbah tentang keselamatan. Ia tidak akan menawarkan kenyataan; tidak akan mengatakan bahwa neraka itu nyata dan surga juga ada; Putri, sekarang dia ada di sini di tempat ini.”

3.1.2. Tanggapan Penulis:

Dalam kesaksiannya yang menyatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II ada di neraka, disebutkan alasan-alasan antara lain menyatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II tidak akan menawarkan kenyataan; tidak akan mengatakan bahwa neraka itu nyata dan surga juga ada.

Tentu saja kesaksian dari Angelica sangat kontradiktif dengan kenyataan yang ada, sehingga penulis meragukan kesaksian dari Angelica apakah benar-benar berasal dari Tuhan atau berasal dari Iblis (Yoh 8:44). Berikut ini adalah kutipan pernyataan Paus Yohanes Paulus mengenai surga dan neraka :

1. Surga adalah persekutuan penuh dengan Tuhan

Surga sebagai persekutuan penuh dengan Tuhan adalah tema katekese Bapa Suci pada Audiensi Umum tanggal 21 Juli 1999. Surga “bukanlah suatu tempat abstrak ataupun fisik di awan-awan, melainkan suatu hubungan pribadi yang hidup dengan Tritunggal Mahakudus. Surga adalah perjumpaan kita dengan Bapa yang terjadi dalam Kristus yang bangkit melalui persekutuan Roh Kudus,” demikian kata Paus.[1]

2. Neraka adalah keadaan orang yang menolak Tuhan

Dalam Audiensi Umum pada hari Rabu, 28 Juli 1999, Bapa Suci merefleksikan neraka sebagai penolakan definitif terhadap Tuhan. Dalam katekesenya, Paus mengatakan bahwa kita harus berhati-hati dalam menafsirkan secara tepat gambaran-gambaran akan neraka dalam Kitab Suci. Selanjutnya, beliau menjeaskan bahwa “neraka merupakan konsekuensi pokok dari dosa itu sendiri…. (Rather than a place) Daripada tempat [edit penulis : penerjemahannya memang kurang tepat, terjemahan artikel asli bahasa Italia apabila di Inggriskan yang tepat adalah more than a place[2]], neraka lebih menyatakan keadaan mereka yang secara bebas dan definitif memisahkan diri dari Tuhan, sumber dari segala kehidupan dan kebahagiaan.”[1]

Penulis menyimpulkan bahwa Paus mengakui ada dan nyatanya surga dan neraka. Kutipan Paus di atas secara langsung menggugurkan kesaksian Angelica menyatakan bahwa “Yesus” versi Angelica menyatakan Paus Yohanes Paulus II masuk neraka karena tidak akan menawarkan kenyataan; tidak akan mengatakan bahwa neraka itu nyata dan surga juga ada. Karena Yesus tidak pernah mungkin mengatakan hal yang kontrakdiktif dengan kenyataan, berarti Yesus versi Angelica salah dan itu dapat menyimpulkan bahwa kesaksian Angelicalah yang salah.

3.2. Paus Yohanes Paulus II adalah penyembah berhala dan mengajarkan umat Katolik untuk menyembah berhala?

3.2.1. Kesaksian Angelica :

Tuhan berkata, “Dengar, Putri, Aku akan menunjukkan kehidupan orang ini.” Yesus menunjukkan layar besar di mana aku bisa mengamati bagaimana orang ini menawarkan misa berkali-kali kepada orang banyak. Dan bagaimana orang-orang yang ada begitu menyembah berhala. Yesus berkata, “Dengar, Putri, ada banyak penyembah berhala di tempat ini. Penyembahan berhala tidak akan menyelamatkan, Putri. Aku satu-satunya yang menyelamatkan, dan di luar Aku, tidak ada yang menyelamatkan. Aku mengasihi pendosa, tetapi aku benci dosa, Putri. Pergi dan beritahukan manusia bahwa aku mengasihi mereka dan bahwa mereka perlu datang kepada-Ku.” [lengkap dengan berbagai macam foto patung Maria]

3.2.2. Tanggapan Penulis :

Semua Paus dan Gereja Katolik sendiri tidak pernah mengajarkan untuk menyembah berhala, baik patung maupun Maria.

Patung Yesus –> Patungnya sebagai simbol. Orangnya yang disembah. [3]
Patung Maria –> Patungnya sebagai simbol. Orangnya dihormati. [3]

Gereja Katolik mengajarkan untuk tidak menyembah patung (Kel 20:4-5). Keluaran 20:4 (yang selama ini menjadi ayat untuk menyerang Katolik) jangan dipahami tanpa ayat 5.

Praktek pembuatan patung sendiri tidak dilarang di alkitab (bdk. Bil 21:8, kel 25:18-22).

Patung ular tedung yang dibuat Musa (Bil 21:8)
Patung kerub di atas tabut perjanjian (kel 25:18-22)

Selain itu, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan untuk menyembah Maria. Kalau Gereja Katolik memang mengajarkan untuk menyembah Maria, kenapa Gereja Katolik mati-matian berusaha untuk menjelaskan bahwa Gereja Katolik tidak menyembah Maria? Kalau memang Gereja Katolik mengajarkan untuk menyembah Maria tentunya adalah dosa dan penghujatan bagi Gereja Katolik untuk tidak menyembah Maria.
Kenyataan bahwa Gereja Katolik mati-matian berusaha untuk menjelaskan bahwa Maria tidak disembah adalah karena memang Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Maria itu layak disembah [4].

Berikut ini adalah ajaran resmi Gereja Katolik yang tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik :

971.”Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). “Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen” (MC 56). “Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno santa Perawan dihormati dengan gelar ‘Bunda Allah’; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya… Kebaktian Umat Allah terhadap Maria… meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya” (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah Bdk. SC 103. dan dalam doa marian – seperti doa rosario, yang merupakan “ringkasan seluruh Injil” Bdk. MC 42..

Kalau tetap bersikeras untuk mengatakan bahwa Gereja Katolik menyembah Maria, meskipun Gereja Katolik sendiri mengatakan tidak, maka apa yang dilakukan adalah fitnah. Dan itu adalah dosa. Upah dosa adalah neraka. Dalam kesaksian Yesus versi Angelica mengatakan bahwa Gereja Katolik menyembah berhala, sedangkan ajaran Gereja Katolik yang dibangun oleh Tuhan Yesus sendiri diatas Petrus (bdk. Mat 16:18) menyatakan hal yang berkebalikan. Dan secara otomatis kesaksian Angelica gugur dengan sendirinya karena Yesus tidak bisa kontradiktif.

3.3. Paus Yohanes Paulus II korupsi dan gila harta? Para selibat berzinah dengan biarawati?

3.3.1. Kesaksian Angelica :

Ketika Tuhan sedang berbicara, aku mulai melihat bagaimana orang ini menerima banyak sekali koin dan uang kertas; uang, semua yang dia akan simpan. Ia punya begitu banyak uang. Aku melihat gambar orang ini duduk di atas takhta, tetapi aku juga bisa melihat lebih dari itu. Memang benar bahwa orang-orang ini tidak menikah, aku dapat meyakinkanmu, aku tidak mengada-ada, Tuhan menunjukkan kepadaku, orang-orang itu tidur dengan biarawati; dengan banyak perempuan di sana!

Tuhan menunjukkan kepadaku orang-orang ini hidup dalam percabulan, dan Firman mengatakan bahwa pezinah tidak akan mewarisi Kerajaan-Nya. Saat aku sedang menonton semua ini, Tuhan berkata, “Lihat Putri, semua ini yang aku tunjukkan kpdmu adalah apa yang terjadi, apa yang ia jalani dan apa yang terus terjadi di antara banyak orang, di antara banyak imam dan paus yang ada.” Kemudian ia berkata, “Putri, pergi dan beritahukan manusia bahwa sudah waktunya untuk berbalik kpdKu.”

3.3.2. Tanggapan penulis :

Penulis menganggap tidak ada gunanya menanggapi pernyataan di atas karena tidak ada bukti dan merupakan imajinasi tak berdasar belaka.

3.4. Gereja Katolik menyembah berhala, menyembah Maria, menyembah santo-santa?

3.4.1. Kesaksian Angelica :

Aku ingin mengatakan kpdmu yaitu engkau harus pergi dan beritahukan pd manusia, beritahukan penyembah berhala bahwa neraka itu nyata, dan bahwa penyembah berhala tidak akan mewarisi Kerajaan-Ku, tetapi pergi dan katakan pd mereka bahwa jika mereka bertobat, mereka dapat masuk ke dlm tempat tinggal surgawiKu. Pergi beritahu mereka bahwa Aku mencintai mereka dan beritahu mereka bahwa Maria tidak memiliki pengetahuan apa-apa [yg terjadi di bumi] dan satu-satunya yg mereka harus tinggikan adalah Aku, karena baik Maria, atau St. Gregory ataupun santo lainnya tidak dapat menawarkan keselamatan. Aku adalah Satu-satunya yang menyelamatkan dan di luar Aku – tidak ada, tidak ada, tidak ada – yg menyelamatkan!

3.4.2. Tanggapan penulis :

Ini adalah kebohongan yang luar biasa yang diungkapkan oleh “Yesus” versi Angelica. Pertama, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Maria, St. Gregory, St. Paulus, St. Petrus, dkk menawarkan keselamatan. Kedua, Gereja Katolik tidak pernah menyatakan bahwa selain Yesus masih ada lagi yang bisa ditinggikan (i.e. Santa Maria, Santo-santa, Paus).

Kembali seperti di atas, kalau tetap bersikeras untuk mengatakan bahwa Gereja Katolik menyembah Maria maupun santo-santa yang lain, meskipun Gereja Katolik sendiri mengatakan tidak, maka apa yang dilakukan adalah fitnah. Dan itu adalah dosa. Upah dosa adalah neraka. Dan kembali secara otomatis kesaksian Angelica yang tidak sesuai dengan iman Katolik gugur dengan sendirinya karena ajaran Yesus tidak bisa kontradiktif.

4. SEKILAS MENGENAI PAUS YOHANES PAULUS II [5]

Gereja Katolik memang mengenal proses beatifikasi pada orang- orang tertentu yang sudah meninggal dunia, yang selama hidupnya menjadi teladan kekudusan bagi umat beriman. Proses ini dimulai dari permintaan Gereja setempat, yang umumnya berkaitan dengan banyaknya mujizat yang terjadi atas perantaraan/ permohonan orang kudus tersebut kepada Tuhan. Maksudnya tentu agar umat beriman dapat terinspirasi dan terdorong untuk meniru teladan hidup kekudusannya. Proses beatifikasi ini sendiri tidak mudah, dan pihak otoritas Gereja akan memeriksa dengan seksama, kehidupan orang tersebut, baik dari teladan hidupnya maupun keotentikan mujizat- mujizat Tuhan yang terjadi atas perantaraan doa syafaatnya.

4.1. Mujizat Paus Yohanes Paulus II

Tentang mujizat- mujizat yang terjadi atas doa syafaat Paus Yohanes Paulus II semasa hidupnya telah banyak dicatat, dan demikian beberapa contohnya yang kami sarikan dari artikel Miraculous Healings attributed to John Paul II, dikutip dari majalah Love one Another, number 5, by the Society of Christ, Sterling Heights, Michigan USA, 2005, p. 12-13:

1. Kesembuhan Kardinal Marchisano, pembantu Paus Yohanes Paulus II, dan rektor basilika St. Petrus: Pada tahun 2000 ia mengalami kesalahan operasi arteri lehernya, yang menyebabkan pita suara kanannya rusak, sehingga ia sangat sulit untuk berbicara, dan suaranya tidak dapat terdengar dan tak dapat dimengerti.

2. Kesembuhan Victoria Szechinskis: Victoria lahir pada tahun 1982 dan didiagnosa mempunyai tumor yang mematikan di dadanya.

3. Paus Yohanes Paulus II meletakkan tangannya atas kepala seorang anak perempuan yang buta, dalam kunjungannya ke Puerto Rico, Oktober 1984. Sekembalinya ke rumah, anak itu dapat melihat.

4. Pada saat audiensi umum pada tanggal 14 Maret 1979, Paus Yohanes Paulus II mencium Kay Kelly, seorang penderita kanker, yang hidup di Liverpool. Beberapa bulan kemudian kanker itu hilang semuanya.

5. Di bulan November 1980, pada saat gempa terjadi di Italia, Emilio Cocconi, 16 tahun, terkubur hidup- hidup. Walaupun kemudian ia dapat diselamatkan, namun kaki kirinya tidak dapat berfungsi. Paus bertemu dengannya pada saat Paus mengunjungi daerah gempa tersebut dan menghiburnya. Empat tahun kemudian (1984) Emilio bertemu kembali dengan Paus pada saat audiensi di Roma. Paus memberkatinya, dan mengatakan, “Tuhan yang Mahabaik akan menolongmu.R21; Empat minggu kemudian, anak muda itu sembuh.

6. Pada tahun 1981, dalam kunjungannya ke Manila, Filipina, Paus mendoakan dan meletakkan tangannya atas seorang biarawati, Madre Vangie, 51 tahun yang tubuhnya cacat dan harus bergantung kepada kursi roda. Beberapa menit kemudian, suster tersebut dapat berdiri tegak, sembuh sepenuhnya, dan meninggalkan kursi rodanya.

7. Di bulan Januari 1980 di Castel Gondolfo, Paus bertemu dengan Stefani Mosca, seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang cacat tubuh. Paus menghibur dan menciumnya. Beberapa waktu kemudian ia sembuh.

8. Pada tahun 1990, Paus Yohanes Paulus II memberkati dan mencium Helano Mireles, seorang bocah Meksiko yang berusia 4 tahun, yang menderita leukemia. Penyakitnya hilang seketika setelah Paus memberkatinya. Hal ini disaksikan oleh Kardinal Javier Lozano Berragan, yang kemudian memberikan kesaksian atas mujizat kesembuhan ini.

4.2. Kharisma dari Paus Yohanes Paulus II

Di samping mujizat- mujizat ini, kita mengingat bahwa semasa hidupnya, Paus Yohanes Paulus II sangat dihormati, justru karena kesederhanaannya dan ketulusan kasih yang ditunjukkannya, sehingga melalui dia, orang dapat mengalami kasih Kristus. Tak mengherankan, bahwa pada saat pemakamannya, jumlah peziarah yang hadir mencapai sekitar 4 juta orang. Beritanya dicatat oleh sekitar 6000 jurnalis; acaranya dihadiri oleh 180 pemimpin negara dan diliput oleh 137 stasiun televisi dari 81 negara. Para komentator setuju bahwa acara ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah manusia.

5. BEBERAPA KESAKSIAN ANGELICA YANG CUKUP GANJIL MENURUT PENULIS

5.1. Setan, yang berada di “neraka” versi Angelica, sekarang sedang ber-MOONWALK ria ala Michael Jackson [6]

Di dalam versi Indonesia memang tidak tertulis secara jelas. Namun apabila membaca versi bahasa Inggrisnya, mungkin pembaca tidak akan berhenti tertawa sampai sekarang. :D

Take for example, Michael Jackson. This man was famous all over the world but he was a satanist. Although many people may not see it that way, but it is the truth. This man had satanic covenants: He came to agreement with the devil in order to achieve fame and attract many fans.

Those steps that he performed, that’s the way I saw demons walk while tormenting people in hell. They would slide backward and not move forward, while they shout; enjoying the anguish they impose upon the people. Let me tell you that Michael Jackson is in hell.

Ambil contoh, Michael Jackson. Orang ini terkenal di seluruh dunia tetapi ia adalah seorang pengikut setan. Meskipun banyak orang mungkin tidak melihat seperti itu, tapi itu adalah kebenaran. Orang ini memiliki perjanjian setan: ia datang pd kesepakatan dengan iblis demi mencapai ketenaran dan menarik banyak penggemar.

Langkah-langkah tarian yang ia dilakukan, itulah caraku melihat setan-setan berjalan sambil menyiksa orang di neraka. Mereka akan bergeser mundur dan tidak bergerak maju, sementara mereka berteriak; menikmati penderitaan yang mereka jatuhkan pada orang-orang. Biarkan aku memberitahumu bahwa Michael Jackson di neraka.

MOONWALK??!!!!

You’ve got to be kidding!!

Bagi teman-teman yang tidak tahu Moonwalk ala Michael Jackson, dapat melihat di link dibawah:

http://www.youtube.com/watch?v=n_3v-_p3ESo

http://www.youtube.com/watch?v=E_FzgtLVzbI&feature=related

Kalau kesaksian Angelica ternyata benar, penulis baru mengetahui bahwa “setan” versi Angelica dapat ber-Moonwalk-ria di neraka. LOL. Aneh-aneh saja! :D

5.2. Eskatologi (nubuat akhir jaman) versi kesaksian Angelica yang bertentangan dengan iman Gereja Katolik

Nubuat-nubuatan wahyu mengenai akhir jaman yang cenderung “fantastis” versi Angelica (dan banyak versi lagi) bertentangan dengan Gereja Katolik yang pernah penulis baca [7]. Gereja Katolik mengajak umat untuk menafsirkan wahyu dengan konteks yang sesuai dengan alkitab. Karena terlalu panjang, penulis menyarankan untuk melihat link-link dibawah ini :

Telaah Kitab Wahyu oleh Mgr. Prof. Dr. I. Suharyo, Pr. ( http://ekaristi.org/dokumen/wahyu.php?subaction=showfull&id=1140101698&archive&start_from&ucat=5& )

Penyelewangan teologi Rapture (yang hampir mirip dengan akhir jaman versi Angelica) dari sisi Katolik ( http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2968&sid=2caf9595ac34e4643a6aa99d5f600c11 )

Tanggapan terhadap penyelewengan isu 666 ( http://katolisitas.org/2010/11/18/tentang-666/ )

Akhir jaman menurut Gereja Katolik bagian ke-1 ( http://katolisitas.org/2009/06/25/akhir-jaman-menurut-ajaran-gereja-katolik-bagian-ke-1/ )

Akhir jaman menurut Gereja Katolik bagian ke-2 ( http://katolisitas.org/2009/06/25/akhir-jaman-menurut-ajaran-gereja-katolik-bagian-ke-2/ )

5.3. Kutipan ketidak-alkitabiahan kesaksian Angelica [8]

5.3.1. Kesaksian Angelica :

Angelica, berbicara di depan audiens : Tuhan mengatakan padaku, “Putri, pada hari-hari itu Roh Kudus tidak akan ada lagi di Bumi. Pada masa itu, Ia tidak akan ada lagi di Bumi.” (2 Tesalonika 2:7.)

5.3.2. Tanggapan Penulis :

2 tesalonika 2:5-7 tidak berbicara tentang tidak adanya Roh Kudus di bumi.

Tuhan Yesus yang adalah satu dengan Bapa dan Roh Kudus, telah berjanji untuk menyertai kita semua sampai akhir jaman (Matius 28 : 20), bahkan sampai selama-lamanya.

Jika tidak ada lagi Roh Kudus di bumi, mengapa di akhir jaman masih ada orang beriman ? orang-orang kudus ? ( Matius 13 : 24-40; Wahyu 20 : 9 ). Kesaksian Angelica telah mengkontradiksi janji Yesus dan bertentangan dengan Kitab Suci.

5.3.3. Kesaksian Angelica :

Pengangkatan terjadi. Mereka berteriak dan ingin bunuh diri, tetapi mereka tidak bisa. Tuhan berkata kpdku, “Putri, pada hari-hari itu, maut akan lari; Putri, pada hari-hari itu Roh Kudus tidak akan ada lagi di Bumi.” (Wahyu 9:6)

5.3.4. Tanggapan Penulis :

Kesaksian Angelica nampaknya terlihat seperti korban dari penafsiran Alkitab secara serampangan dan aneh-aneh. Memotong-motong ayat seenaknya sendiri lalu menciptakan tafsiran sendiri.

Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org

Wahyu  9:1

Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut.

Wahyu  9:2

Maka dibukanyalah pintu lobang jurang maut itu, lalu naiklah asap dari lobang itu bagaikan asap tanur besar, dan matahari dan angkasa menjadi gelap oleh asap lobang itu.

Wahyu  9:3

Dan dari asap itu berkeluaranlah belalang-belalang ke atas bumi dan kepada mereka diberikan kuasa sama seperti kuasa kalajengking-kalajeng di bumi.

Wahyu  9:4

Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya.

Wahyu  9:5

Dan mereka diperkenankan bukan untuk membunuh manusia, melainkan hanya untuk menyiksa mereka lima bulan lamanya, dan siksaan itu seperti siksaan kalajengking, apabila ia menyengat manusia.

Wahyu  9:6

Dan pada masa itu orang-orang akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka.

di ayat 4 dikatakan :

Quote:

Wahyu 9:4 – Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya.

Berarti masih ada yang memakai meterai Allah. Berarti masih ada orang kudus. Berarti masih ada Roh Kudus di bumi pada momen yang dimaksudkan oleh kesaksian Angelica.

Begitu ada satu bagian saja dari suatu kesaksian yang di-klaim berasal dari Allah ternyata ber-kontradiksi dengan Firman Tuhan dan ajaran Gereja Kudus, maka luruhlah seluruh kebenaran yang dengan susah payah dibangunnya.

6. MARAKNYA WAHYU PRIBADI AKAN SURGA DAN NERAKA DI “PASARAN” DAN BAGAIMANA UMAT KATOLIK MENANGGAPINYA

Penulis menambahkan bab ini dengan tujuan membuka mata pembaca bahwa ada banyak sekali wahyu-wahyu pribadi yang diterima oleh orang-orang dan satu dengan yang lainnya bahkan SALING BERTENTANGAN!

Mari ikuti logika yang penulis pikirkan!

Pertama, penulis percaya bahwa Tuhan yang MahaKuasa bisa menurunkan visi kepada umatnya melalui mimpi, penampakan, penglihatan, mujizat, dll. Hal ini dapat kita lihat sendiri di alkitab. Tuhan menurunkan wahyunya secara pribadi dengan menggunakan hal-hal yang melampaui logika kepada Musa, Yusuf (anak Yakub), Elia, Yeremia, Nabi-nabi Israel lainnya, Maria, Yusuf (ayah Yesus), Paulus, Yohanes, dan masih banyak lagi.

Kedua, ada banyak sekali wahyu pribadi mengenai surga dan neraka. Tidak hanya dari umat kristiani non-Katolik saja (yang ketika muncul wahyu pribadi, lgsg diblow-up besar2an), bahkan santo-santa pun sangat sering mendapatkan wahyu Pribadi. Ada banyak umat-umat dari non-Kristiani pun yang mengaku mendapatkan wahyu pribadi dan mengklaim bahwa itu dari Tuhan. Pertanyaan selanjutnya, apakah seluruh wahyu pribadi tersebut dapat dipercaya seluruhnya dan merupakan kebenaran dari Tuhan dan bukannya dari si jahat?

Ketiga, satu-satunya cara bagi kita untuk melihat wahyu-wahyu pribadi yang bertebaran di mana-mana adalah dengan membaca teliti dan melihat satu per satu bagian dari kesaksian tersebut. Pada umumnya, hampir setiap kesaksian wahyu pribadi masing-masing orang berbeda-beda dan bahkan berkontradiksi satu dengan yang lain, bahkan dengan ALKITAB. SEHINGGA DAPAT DISIMPULKAN BAHWA SANGAT MUNGKIN BAHWA WAHYU YANG DITERIMA OLEH PENDETA A, PASTOR B, UMAT C, BPK D, IBU E, DST, DST, TIDAK DAPAT DITERIMA [SERTA MERTA/BEGITU SAJA] SEBAGAI KEBENARAN TERLEBIH LAGI APABILA BERTENTANGAN DENGAN AJARAN GEREJA KATOLIK SENDIRI.

Berikut ini penulis mencoba memberikan kontradiktif antara kesaksian-kesaksian wahyu pribadi surga dan neraka yang beredar sangat banyak dipasaran.

1. Victoria Nehale melihat bahwa di neraka iblis-iblis yang rupanya seperti buaya dan berjalan dengan empat kaki. [9]

2. Angelica sendiri mengatakan bahwa setan ber-moonwalk ria di neraka. (Buaya-nya versi Victoria apa juga bisa moonwalk????) [lihat subbab 5.1.]

3. Esau, seorang kolombia, melihat neraka yang terdiri dari miliaran lembah kawah-kawah (Valley of Cauldrons) [10]

4. Choo Thomas, melihat neraka sebagai tempat yang begitu dalam, gelap, dan merupakan lubang tak berpenghujung [11]

5. Ada lagi seorang hamba Tuhan yang mengaku dibawa ke neraka dan ternyata neraka itu isinya es beku dan semua orang dihukum dengan direndam dalam es kekal. [12]

Apabila pembaca googling di internet ada begitu banyak kesaksian orang yang mendapatkan wahyu pribadi dari Allah dan menimbulkan kesan bahwa wahyu pribadi adalah pasaran. Parahnya, masih banyak para pembaca yang cukup suka dengan isi konten yang berbau mistis, magis, dan di luar nalar. Penulis membuktikan bahwa bahkan banyak kesaksian yang jelas-jelas berkontradiksi satu dengan yang lain bahkan sangat tidak alkitabiah dan bersifat tuduhan.

7. KESIMPULAN PENULIS

Penulis berkesimpulan bahwa kesaksian Angelica adalah sesat dan tidak ada gunanya umat Gereja Katolik resah dan khawatir sedikit pun. Ada banyak sekali kesaksian-kesaksian yang di-klaim berasal dari Allah dan ternyata berkontradiksi dengan Firman Tuhan dan ajaran Gereja sendiri. Penulis menyarankan untuk pembaca tidak buru-buru terpengaruh oleh kesaksian tersebut. Silahkan di kroscek dengan Katekismus Gereja Katolik, romo-romo paroki, website-website apologetika Katolik.

Di luar sana ada lebih banyak kesaksian-kesaksian serupa, ada yang menyatakan bahwa Maria menangis darah karena umat Katolik menyembahnya dan lain-lain. Penulis merasa bahwa kesaksian-kesaksian yang terinspirasi oleh mimpi yang terkesan “fantastis/diluar nalar/melampaui logika/berbau mistis” dari beberapa orang sering dengan mudahnya diterima dan diyakini kebenarannya oleh banyak umat Katolik, padahal belum tentu seperti itu. Di dalam Gereja Katolik sendiri ada banyak kesaksian yang berasal dari penglihatan-penglihatan, salah satu contohnya adalah Maria Simma dan api penyucian. [13]

Sebagai informasi, Gereja sendiri tidak serta menjustifikasi kebenaran dari penampakan-penampakan / mujizat-mujizat yang terjadi. Seperti penampakan Bunda Maria di beberapa tempat, Gereja bahkan meneliti penampakan Bunda Maria selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun dengan mendatangkan tim yang berisikan orang-orang dari multi-disiplin ilmu bahkan sebagian besar dari kalangan non-gereja. Tidak jarang bahkan Gereja menganulir kebenaran dari penampakan-penampakan yang terjadi. [14]

Ada beberapa kalimat yang cukup bagus yang saya kutip dari admin forum ekaristi.org [15]

On top of my head, ada dua cara gampang untuk meyakinkan si B betapa palsunya kesaksian itu.

Pertama, tell him about the moonwalking devils in hell .

Second of all, tunjukkan kesaksian-kesaksian sejenis yang dikeluarkan para Protestant [edit penulis : tidak menjurus pada denominasi tertentu melainkan kepada oknum penerima wahyu pribadi ] yang aneh-aneh. Kesaksian macam itu sangat banyak sekali di internet. Nah, dengan menunjukkan banyaknya kesaksian yang sejenis, maka si B ini akan paham bahwa hal seperti ini adalah sesuatu yang “pasaran” sehingga dia akan mulai meragukan ke-authenticity-nya.

8. SARAN PENULIS

Ditengah lingkungan masyarakat yang cukup heterogen, akan sangat lumrah seorang umat Gereja Katolik menerima pertanyaan yang berkisar mengenai iman mereka. Penulis menyarankan umat-umat Gereja Katolik untuk membaca apologetika yang berkaitan dengan Maria, sejarah Gereja, Alkitab dan Tradisi Suci, Sakramen, dan masih banyak lagi. Berikut ini adalah beberapa link apologetika yang penulis sarankan.

http://www.ekaristi.org/apologetik.php

http://www.ekaristi.org/forum

http://katolisitas.org/

http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=3535&start=0&postdays=0&postorder=asc&highlight=gereja+perdana

Menjawab tuduhan tidak berdasar terhadap pengajaran Maria ( http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=78&postdays=0&postorder=asc&start=0 )

Penulis juga menyarankan untuk membeli buku-buku apologetika Katolik yang sekarang sudah dijual dibanyak toko buku di paroki masing-masing seperti karangan Scott Hann (dapat memulai membaca dari buku Rome Sweet Home), David B. Currie, Karl Keating, dll.

Saya berdoa kepada Allah Tritunggal semoga para umat Katolik yang khawatir, ragu-ragu, bahkan berpindah akibat membaca kesaksian Angelica dibawa kembali pada kebenaran yang sesungguhnya. Saya harap tulisan ini dapat menjadi berkat dan membantu teman-teman untuk dapat membela iman Katolik.

REFERENSI

[1] http://yesaya.indocell.net/id644.htm
[2] http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=130102#130102
[3]
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=9675#9675
[4]
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=42865#42865
[5]
http://katolisitas.org/2011/03/01/beatifikasi-paus-yohanes-paulus-ii/
[6]
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=129765#129765
[7]
Currie, D.B., “Mengapa Saya Berpindah ke Katolik?” (2008), Fidei Press, pp. 181-213.
[8]
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=130012#130012
[9]
http://penjalabaja.wordpress.com/2010/07/05/penglihatan-waktu-sedang-terburu-habis/
[10]
http://penjalabaja.wordpress.com/2009/04/13/7-orang-kolombia-diperlihatkan-neraka-i/
[11]
http://my.opera.com/a952118/blog/kesaksian-choo-thomas
[12]
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=130116#130116
[13]
http://ratnaariani.wordpress.com/2009/10/15/rahasia-arwah-arwah-di-api-penyucian/
[14]
http://en.wikipedia.org/wiki/Our_Lady_of_Lourdes
[15]
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=130115#130115

Patung dan Gambar-Gambar Kudus

Posted: 18 September 2011 in KATOLIK
oleh: Romo William P. Saunders *
Kadang-kadang saya mendengar kaum fundamentalis menyerang Gereja Katolik karena memiliki “berhala-berhala” demikian mereka menyebut patung-patung dan gambar-gambar kudus kita. Bagaimana menanggapi hal ini?
~ seorang pembaca dari Fredricksburg

 

Serangan terhadap Gereja karena menggunakan patung dan gambar-gambar religius timbul akibat penafsiran yang salah atas perintah pertama dalam Sepuluh Perintah Allah: “Akulah TUHAN, Allahmu, … Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya” (Kel 20:2-5).

 

Dalam memahami konteks Perintah Pertama, kita patut ingat bahwa pada masa Sepuluh Perintah Allah diberikan, tak seorang pun pernah melihat wajah Allah. Bahkan Musa yang berada di hadapan Allah di Gunung Sinai tidak memandang wajah-Nya: Tuhan berkata kepada Musa, “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu … Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” (Kel 33:19-20). Jadi, tak ada seorang pun yang akan pernah dapat menggambarkan Tuhan dalam rupa patung atau pun lukisan; melakukannya hanyalah khayalan imaginasi belaka.

 

Tetapi, Kristus – sungguh Allah dan sungguh manusia – masuk ke dalam dunia dan mengambil rupa manusia. Sabda Allah menjadi manusia dan diam di antara kita. Dalam pengantar Injilnya, St. Yohanes menulis, “…Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh 1:14); karenanya, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yoh 1:18).

 

Justru karena inkarnasi Putra Allah itulah, St. Yohanes dari Damaskus (wafat tahun 749) menegaskan bahwa, “Pada mulanya Allah, yang bukan badan, bukan juga rupa, tidak dapat dilukiskan sama sekali melalui gambar. Tetapi sekarang, setelah Ia kelihatan dalam daging dan hidup bersama manusia, saya dapat membuat satu gambar dari apa yang saya lihat dari Allah…. Kita memandang kemuliaan Tuhan dengan wajah tak terselubung.” Sejak masa awal Gereja, kita mempunyai bukti akan adanya gambar-gambar Kristus, peristiwa-peristiwa dalam Kitab Suci, atau para santa dan santo. Gambar-gambar demikian masih dapat ditemukan sekarang dalam katakomba-katakomba.

 

Namun demikian, tidaklah mungkin suatu patung atau lukisan yang menggambarkan suatu tokoh religius – misalnya Kristus, Bunda Maria, atau seorang kudus – menjadi obyek yang kita sembah. Gampangnya, Kristus bukanlah patung. Berpikir bahwa suatu patung atau gambar adalah pribadi yang sesungguhnya, atau menyembah patung atau gambar tersebut, merupakan penyembahan berhala.

 

Tujuan gambar-gambar kudus ini sudah jelas untuk membantu kita manusia dalam merenungkan Kristus, karya-karya-Nya, dan para kudus-Nya, agar kita boleh dibawa semakin dekat kepada-Nya dan menjadi lebih sadar akan persekutuan kita dengan para kudus. Sebagai contoh, kita semua memiliki gambar atau foto orang-orang yang kita kasihi, baik mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Saya ingat saya pernah melihat foto-foto kakek-nenek buyut saya dan juga tiga kakek-nenek saya yang semuanya tidak pernah saya kenal atau jumpai secara pribadi karena mereka telah meninggal sebelum saya dilahirkan. Mereka yang saya kasihi ini, yang saya kenal hanya lewat foto-foto dan cerita-cerita tentang mereka, merupakan kenangan yang hidup bagi saya. Ikatan kekeluargaan saya dengan mereka semakin dipererat. Saya dapat lebih sadar akan sejarah keluarga yang merupakan bagian dari hidup saya. Betapa terlebih lagi ketika saya memandangi foto nenek saya yang terkasih, yang saya kenal, tetapi sekarang telah berpulang ke rumah Bapa kita. Benar, foto-foto itu bukanlah pribadi sesungguhnya, tetapi foto-foto tersebut mengingatkan saya akan pribadi yang diwakilinya dan kenangan akan pengalaman hidup yang saya lewatkan bersama pribadi tersebut menjadi lebih nyata.  

 

Sama persis halnya dengan patung atau gambar-gambar religius. Lagi, St. Yohanes dari Damaskus menyatakan, “Keindahan dan warna gambar-gambar merangsang doaku. Mereka merupakan pesta bagi mataku, sebagaimana gambar dari suatu pemandangan alam merangsang hatiku, untuk memuja Allah.”

 

Dalam perjalanan sejarahnya, Gereja telah berperang melawan penafsiran yang salah terhadap larangan penyembahan berhala dalam Perintah Pertama. Pada tahun 730, Kaisar Leo III, yang memerintah sisa-sisa Kekaisaran Romawi bagian Timur, memerintahkan pemusnahan ikon-ikon, yang merupakan bagian dari tradisi liturgi Timur. Tindakannya itu didasari oleh penekanan yang berlebihan terhadap keilahian Kristus yang sayangnya berupa tindakan penghinaan terhadap penghormatan yang tulus kepada gambar-gambar religius. Pemusnahan ikon-ikon atau gambar-gambar kudus disebut ikonoklasme dan dikutuk oleh Bapa Suci di Roma. Sesudahnya, pada tahun 787 Konsili Nicea membela penghormatan kepada gambar-gambar kudus dengan menyatakan, “Karena, semakin sering seseorang merenungkan gambar-gambar kudus ini, semakin sukacita ia dibimbing untuk merenungkan pribadi asli yang mereka wakili, semakin pula ia ditarik kepadanya dan diarahkan untuk memberinya … penghormatan yang khidmad…” Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (St. Basilius), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya.”

 

Suatu ikonoklasme baru muncul dalam gerakan Protestan. Kefanatikan kaum reformasi berakibat pada penyingkiran altar, pemusnahan karya-karya seni religius, dan penghapusan dekorasi di banyak gereja yang dulunya adalah Gereja Katolik. Calvin secara khusus menekankan bahwa penghormatan kepada para kudus merupakan buah karya setan dan penghormatan kepada patung dan gambar-gambar kudus merupakan penyembahan berhala. Serangan-serangan Calvin menyebar juga di kalangan Presbyterian, Dutch Reformed, Huguenot, Baptist, dan kaum Puritan. (bahkan kaum Amish hingga kini menganggap foto orang-orang yang dikasihi sebagai penyembahan berhala). Konsili Trente (tahun 1563) bertindak dengan menyatakan, “Patung dan gambar-gambar Kristus, Santa Perawan Maria Bunda Allah dan para kudus lainnya sepatutnya disimpan dan ditempatkan di tempat-tempat khusus doa; dan kepada mereka hendaklah disampaikan penghormatan yang khidmad, bukan karena dianggap terdapat sesuatu yang adikodrati atau kuasa tertentu di dalamnya sehingga mereka dihormati, bukan pula karena sesuatu diminta dari mereka atau pun kepercayaan buta kepada patung seperti yang dilakukan oleh kaum kafir yang menaruh harapan mereka pada berhala-berhala; melainkan karena penghormatan kepada patung atau gambar tersebut ditujukan kepada pribadi-pribadi asli yang diwakilinya. Dengan demikian, melalui gambar-gambar ini, yang kita cium dan di hadapannya kita berlutut serta menyelubungi kepala kita, kita menyembah Kristus dan menyampaikan penghormatan kepada para kudus yang diwakili oleh gambar-gambar tersebut.”

 

Konsili Vatikan II menegaskan penggunaan gambar-gambar kudus dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci (tahun 1963): “Kebiasaan menempatkan gambar-gambar atau patung-patung kudus dalam gereja untuk dihormati oleh kaum beriman hendaknya dilestarikan. Tetapi jumlahnya jangan berlebih-lebihan, dan hendaknya disusun dengan laras, supaya jangan terasa janggal oleh umat Kristiani, dan jangan memungkinkan timbulnya devosi yang kurang kuat.” (no. 125). Patung dan gambar-gambar kudus membantu membangkitkan iman umat beriman. Karenanya, baik di Gereja maupun di rumah-rumah kita, patung dan gambar-gambar kudus merupakan tanda pengingat yang kelihatan akan Yesus Kristus, Bunda Maria, dan para kudus. Sadar sepenuhnya akan hidup mereka yang tidak kelihatan, namun nyata dalam kehidupan kita, kita mempersatukan doa-doa kita dengan doa-doa Bunda Maria dan para kudus kepada Tuhan, sambil dengan rindu menantikan waktu di mana kita akan berjumpa dengan-Nya muka dengan muka.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Icons and Sacred Images” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; http://www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Pakaian Liturgi Imam

Posted: 17 September 2011 in KATOLIK

Dalam perayaan liturgi dan ibadat, para petugas memakai pakaian tertentu. Ada berbagai jenis pakaian liturgi yang disesuaikan dengan fungsi dan pemakainya. Pakaian ini melambangkan suasana liturgi yang dirayakan saat itu.

Jubah

Jubah adalah pakaian yang hanya dikenakan oleh imam, atau frater. Biasanya berwarna putih panjang, berlengan panjang.

Kasula

Kasula adalah pakaian luar yang dikenakan imam saat memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula dikenakan diluar jubah atau alba. Kasula ini adalah pakaian resmi untuk imam yang wajib dikenakan saat memimpin Perayaan Ekaristi. Warna kasula selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

Stola

Stola adalah pakaian liturgi berbentuk seperti selendang yang dikalungkan. Stola hanya boleh dipakai oleh orang-orang yang telah ditahbiskan yaitu, uskup, imam, diakon (calon imam). Stola merupakan simbo pemimpin liturgi. Maka tidak boleh dikenakan oleh orang yang tidak ditahbiskan. Stola biasa dipakai saat memberikan Sakramen Pengampunan dosa, saat memberikan Sakramen Minyak Suci, dan saat memimpin ibadat lainnya. Warna stola selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

Pluviale

Pluviale adalah kain seperti mantel yang besar dan diberi hiasan indah. Pemakaiannya adalah dengan cara dikalungkan dari belakang dan dikancingkan pada bagian depan. Pluviale dipakai pada saat prosesi, adorasi, pemberkatan Sakramen Maha Kudus. Atau saat pemberkatan perkawinan tanpa Misa Kudus.

Velum

Velum adalah kain selubung berbentuk persegi panjang besar dengan ukuran lebar 2-3 meter, yang dihias indah, biasanya berwarna putih atau kuning. Biasanya dipakai imam untuk membungkus Sibori pada saat menyimpan Sakramen Mahakudus.

Amik

Amik adalah kain persegi empat yg pada kedua ujung atasnya terdapat tali yang panjang. Amik dipakai imam untuk menutupi krah baju atau jubah yang tidak berwarna putih. Amik dipakai sebelum mengenakan alba.

Alba

Alba adalah jubah panjang tipis berwarna putih. Alba berasal dari bahasa Latin “albus” yang artinya putih. Alba biasanya dipakai oleh imam atau diakon (calon imam) yang belum memakai jubah, dan  imam atau diakon yang ubahnya tidak berwarna putih . Alba bisa juga dipakai oleh para petugas liturgi lainnya, seperti: prodiakon, lektor, misdinar, dan pemazmur.

Superpli

Superpli adalah pakaian luar seperti rok yang panjangnya dari leher sampai atas lutut. Berwarna putih dan berlengan panjang. Biasa dipakai oleh imam, bruder, frater. Superpli dipakai di atas jubah imam, bruder, atau frater.

Dalmatik

Dalmatik berbentik seperti kasula, hanya biasanya pada ujungnya berbentuk persegi atau bersudut. Bermotif garis-garis salib besar. Hanya dipakai oleh diakon yang ditahbiskan (calon imam)

Samir

Samir adalah perlengkapan liturgi berupa kain seperti selendang kecil dikalungkan di leher yang kedua ujungnya menyatu, yang diberi hiasan salib pada ujungnya. Samir biasa dipakai oleh prodiakon & lektor. Warna samir selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

Singel

Singel adalah sebuah tali panjang yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Singel ini boleh dipakai oleh siapa saja yang memakai alba, atau yang albanya terlalu besar. Singel dipakai untuk merapikan dan mengikat alba.

Doa Syahadat Nicea

Posted: 17 September 2011 in DOA
Versi Katolik Versi Protestan
Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan. Pencipta langit dan bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal,
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, terang dari terang.
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat dengan Sang Bapa,
segala sesuatu dijadikan olehnya. yang dengan perantaraan-Nya, segala sesuatu dibuat;
Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. yang telah turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,
Ia dikandung dari Roh Kudus dan menjadi daging oleh Roh Kudus
dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia. dari anak dara Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. menderita dan dikuburkan;
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi Kitab-kitab,
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati;
Kerajaan-Nya takkan berakhir. yang Kerajaan-Nya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Aku percaya kepada Roh Kudus, yang menjadi Tuhan dan yang menghidupkan
Ia berasal dari Bapa dan Putra¹ yang keluar dari Sang Bapa dan (Sang Anak)¹,
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan. yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan,
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi.
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik² dan apostolik. Aku percaya satu Gereja yang kudus dan am² dan rasuli.
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa.
Aku menantikan kebangkitan orang mati, Aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat. Amin. dan kehidupan di zaman yang akan datang. Amin.
¹ Gereja Barat menambahkan kata filioque (dan Putera) ke dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel pada Konsili Toledo III (589) di Spanyol.
² Katolik di sini berarti semesta, am, dan universal.

Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel dalam Bahasa Yunani

Πιστεύομεν εἰς ἕνα Θεόν, Πατέρα, Παντοκράτορα, ποιητὴν οὐρανοῦ καὶ γῆς, ὁρατῶν τε πάντων καὶ ἀοράτων.

Καὶ εἰς ἕνα Κύριον Ἰησοῦν Χριστόν, τὸν Υἱὸν τοῦ Θεοῦ τὸν μονογενῆ, τὸν ἐκ τοῦ Πατρὸς γεννηθέντα πρὸ πάντων τῶν αἰώνων· φῶς ἐκ φωτός, Θεὸν ἀληθινὸν ἐκ Θεοῦ ἀληθινοῦ, γεννηθέντα οὐ ποιηθέντα, ὁμοούσιον τῷ Πατρί, δι’ οὗ τὰ πάντα ἐγένετο.

Τὸν δι’ ἡμᾶς τοὺς ἀνθρώπους καὶ διὰ τὴν ἡμετέραν σωτηρίαν κατελθόντα ἐκ τῶν οὐρανῶν καὶ σαρκωθέντα ἐκ Πνεύματος Ἁγίου καὶ Μαρίας τῆς Παρθένου καὶ ἐνανθρωπήσαντα.

Σταυρωθέντα τε ὑπὲρ ἡμῶν ἐπὶ Ποντίου Πιλάτου, καὶ παθόντα καὶ ταφέντα.

Καὶ ἀναστάντα τῇ τρίτῃ ἡμέρα κατὰ τὰς Γραφάς.

Καὶ ἀνελθόντα εἰς τοὺς οὐρανοὺς καὶ καθεζόμενον ἐκ δεξιῶν τοῦ Πατρός.

Καὶ πάλιν ἐρχόμενον μετὰ δόξης κρῖναι ζῶντας καὶ νεκρούς, οὗ τῆς βασιλείας οὐκ ἔσται τέλος.

Καὶ εἰς τὸ Πνεῦμα τὸ Ἅγιον, τὸ κύριον, τὸ ζωοποιόν, τὸ ἐκ τοῦ Πατρὸς ἐκπορευόμενον, τὸ σὺν Πατρὶ καὶ Υἱῷ συμπροσκυνούμενον καὶ συνδοξαζόμενον, τὸ λαλῆσαν διὰ τῶν προφητῶν.

Εἰς μίαν, Ἁγίαν, Καθολικὴν καὶ Ἀποστολικὴν Ἐκκλησίαν.

Ὁμολογῶ ἓν βάπτισμα εἰς ἄφεσιν ἁμαρτιῶν.

Προσδοκῶ ἀνάστασιν νεκρῶν.

Καὶ ζωὴν τοῦ μέλλοντος αἰῶνος.

Ἀμήν.

Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel dalam Bahasa Latin

Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum,
Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri
per quem omnia facta sunt.
Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis.
Et incarnatus est de Spiritu Sancto
ex Maria virgine et homo factus est.
Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato,
passus et sepultus est.
Et resurrexit tertia die secundum Scripturas.
et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris.
Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos,
cuius regni non erit finis.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem,
qui ex Patre (Filioque)* procedit.
Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur:
qui locutus est per prophetas.
Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.
Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum.
Et expecto resurrectionem mortuorum,
et vitam venturi saeculi. Amen.

Doa Rosario

Posted: 17 September 2011 in KATOLIK

Doa Rosario merupakan salah satu doa dalam tradisi Gereja Katolik.

Daftar isi

[sembunyikan]

Makna doa Rosario

Doa Rosario adalah doa renungan

Doa Rosario adalah doa renungan. Sambil mendaras doa Salam Maria berulang-ulang (10 kali) para pendoa merenungkan salah satu misteri yang dirangkai dalam rosario. Pemahaman dan praktik ini sangat ditekankan oleh sejumlah dokumen/pernyataan pimpinan Gereja:

  1. Doa rosario adalah salah satu tradisi kontemplasi Kristiani yang terbaik dan paling berharga. Rosario adalah doa renungan yang khas. (Surat Apostolik Rosario Perawan Maria [RPM] no. 5)
  2. Doa Rosario adalah sarana yang paling efektif untuk mengembangkan diri di kalangan kaum beriman, suatu komitmen untuk merenungkan misteri Kristiani; ini sudah saya usulkan dalam surat Apostolik Novo Millennio Ineunte sebagai “latihan kekudusan” yang sejati. Kita memerlukan kehidupan Kristiani yang menonjol dalam seni berdoa. (No. 32: AAS 93 (2001), 288)
  3. Doa Rosario adalah doa renungan yang sangat indah. Tanpa unsur renungan, doa Rosario akan kehilangan maknanya. Tanpa renungan, doa Rosario menjadi ibarat tubuh tanpa jiwa, dan ada bahaya bahwa pendarasannya akan nenjadi pengulangan kata-kata secara mekanis. Ini bertentangan dengan anjuran Yesus: ‘Dalam doamu, janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan’ (Mat 6:7). Sedari hakikatnya, pendarasan Rosario membangun irama yang tenang dan tetap. Ini akan membantu orang untuk merenungkan misteri-misteri kehidupan Kristus. (Anjuran Apostolik Marialis Cultus, 2 Februari 1974, 156; RPM no. 12)

Doa Rosario adalah ringkasan Injil

Doa Rosario adalah “ringkasan Injil”, karena di dalamnya dirangkai dan direnungkan sejarah keselamatan yang dipaparkan dalam Injil; mulai kisah-kisah sekitar inkarnasi sampai dengan kebangkitan dan kenaikan Tuhan. Dengan ditambahkannya satu rangkaian peristiwa baru, yakni peristiwa terang, doa Rosario menjadi ringkasan Injil yang lebih utuh. Kini renungan Rosario mencakup: peristiwa-peristiwa sekitar inkarnasi dan masa kecil Yesus (peristiwa-peristiwa gembira), peristiwa-peristiwa amat penting dalam pelayanan Yesus di hadapan umum (peristiwa-peristiwa terang), peristiwa-peristiwa sekitar sengsara-Nya (peristiwa-peristiwa sedih), dan kenangan akan kebangkitan-Nya (peristiwa-peristiwa mulia). (RPM no. 19)

Doa Rosario adalah doa Kristologis

Doa Rosario adalah salah satu doa Kristiani yang sangat Injili, yang intinya adalah renungan tentang Kristus. Sebagai doa Injil, Rosario dipusatkan pada misteri inkarnasi yang menyelamatkan, dan memiliki orientasi Kristologis yang gamblang. Unsurnya yang paling khas adalah pendarasan doa Salam Maria secara berantai. Tetapi puncak dari Salam Maria sendiri adalah nama Yesus. Nama ini menjadi puncak baik dari kabar/salam malaikat, “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu,” maupun dari salam ibu Yohanes Pembaptis, “Terpujilah buah tubuhmu” (Luk 1:42). Pendarasan Salam Maria secara berantai itu menjadi bingkai, dimana dirajut renungan atau kontemplasi atas misteri-misteri yang ditampilkan lewat Rosario. (Paus Paulus VI, Anjuran Apostolik Marialis Cultus, 2 Februari 1974, 46)

Untaian Rosario

Doa Rosario melahirkan sebuah alat untuk menghitung jumlah doa Salam Maria yang didaraskan, yakni Rosario atau kalung Rosario. Jari-jari tangan bergerak dari satu manik-manik ke satu manik-manik lainnya sejalan dengan didaraskannya doa. Tanpa harus menghitung di dalam ingatan jumlah doa Salam Maria yang didaraskan, pikiran seseorang akan lebih bisa mendalami, dalam meditasi, peristiwa-peristiwa suci dalam Doa Rosario.

Lima dekade rosario meliputi lima kelompok sepuluh manik-manik, dengan tambahan manik-manik besar pada tempat longgar sebelum tiap dekade-nya. Doa Salam Maria diucapkan pada tiap manik-manik dalam sebuah dekade, sementara doa Bapa Kami diucapkan pada manik-manik besar. Sebuah peristiwa baru diumumkan dan didalami pada saat jari tangan berhenti pada manik-manik yang besar.

Beberapa rosario, terutama yang digunakan oleh beberapa ordo/tarekat keagamaan, memiliki lima belas dekade, merujuk pada lima belas peristiwa suci tradisional dari Doa Rosario. Baik rosario dengan lima maupun lima belas dekade semuanya terikat pada sebuah untaian pendek, yang bermula pada sebuah Crucifix diikuti oleh sebuah manik-manik besar, tiga manik-manik kecil dan sebuah manik-manik besar sebelum menyambung pada keseluruhan rosario tadi. Pendarasan rosario dimulai pada untaian pendek, mengucapkan Kredo Para Rasul (Aku Percaya) di Crucifix, satu doa Bapa Kami pada manik-manik besar pertama, tiga doa Salam Maria pada tiga manik-manik kecil berikutnya, dan doa Kemuliaan pada manik-manik besar berikutnya. Pendarasan dekade-dekade rosario lantas mengikuti.

Walaupun menghitung doa dengan menggunakan untaian manik-manik telah menjadi kebiasaan, Doa Rosario nyatanya tidak mengharuskan penggunaan untaian manik-manik tersebut. Doa ini bisa didaraskan dengan menggunakan alat-alat menghitung lainnya, dengan menghitung menggunakan jari tangan seseorang, atau menghitungnya tanpa alat apa pun.

Doa-doa dalam Rosario

Tanda Salib

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Syahadat Para Rasul

Aku percaya akan Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi;
dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita;
yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria;
yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus;
disalibkan, wafat dan dimakamkan;
yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati;
yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa;
dari situ Ia akan datang, mengadili orang yang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja Katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal,
Amin.

Bapa Kami

Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu,
datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat,
Amin.

Salam Maria

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini,
sekarang dan waktu kami mati,
Amin.

Kemuliaan

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad,
Amin.

Terpujilah …

Terpujilah nama Yesus, Maria dan Yosef,
sekarang dan selama-lamanya.

Doa Fatima

Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami.
Selamatkanlah kami dari api neraka,
dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga,
terlebih jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu,
Amin.

Peristiwa-Peristiwa dalam Doa Rosario

Peristiwa Gembira

  • Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38)
  • Maria mengunjungi Elisabet, saudari-Nya (Luk 1:39-45)
  • Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7)
  • Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40)
  • Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52)

Peristiwa Terang

  • Yesus dibaptis di Sungai Yordan (Mat 3: 13-17)
  • Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-12)
  • Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat 3:2, 4:17-23, Mrk 1:15)
  • Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Mat 17:1-9)
  • Yesus menetapkan ekaristi (Mrk 14:22-23, Luk 22:19-29)

Peristiwa Sedih

  • Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46)
  • Yesus didera (Yoh 19:1)
  • Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3)
  • Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Kalvari (Luk 23:26-32)
  • Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49)

Peristiwa Mulia

  • Yesus bangkit dari antara orang mati (Luk 24:1-12)
  • Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53)
  • Roh Kudus turun atas Para Rasul (Kis 2:1-13)
  • Maria diangkat ke surga (1Kor 15:23; DS 3903)
  • Maria dimahkotai di surga (Why 12:1; DS 3913-3917)

Urutan Doa Rosario

  • Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin
  • Syahadat Para Rasul …
  • Bapa Kami …
  • Salam Putri Allah Bapa. Salam Maria …
  • Salam Bunda Allah Putra. Salam Maria …
  • Salam Mempelai Allah Roh Kudus. Salam Maria …
  • Kemuliaan …
  • Terpujilah …
  • Peristiwa (Gembira/Terang/Sedih/Mulia) Pertama
  • Bapa Kami …
  • Salam Maria … (10 kali)
  • Kemuliaan …
  • Terpujilah …
  • Ya Yesus …
  • Peristiwa (Gembira/Terang/Sedih/Mulia) Kedua
  • Bapa Kami …
  • Salam Maria … (10 kali)
  • Kemuliaan …
  • Terpujilah …
  • Ya Yesus …
  • Peristiwa (Gembira/Terang/Sedih/Mulia) Ketiga
  • Bapa Kami …
  • Salam Maria … (10 kali)
  • Kemuliaan …
  • Terpujilah …
  • Ya Yesus …
  • Peristiwa (Gembira/Terang/Sedih/Mulia) Keempat
  • Bapa Kami …
  • Salam Maria … (10 kali)
  • Kemuliaan …
  • Terpujilah …
  • Ya Yesus …
  • Peristiwa (Gembira/Terang/Sedih/Mulia) Kelima
  • Bapa Kami …
  • Salam Maria … (10 kali)
  • Kemuliaan …
  • Terpujilah …
  • Ya Yesus …

Sakramen

Posted: 17 September 2011 in KATOLIK

Sakramen (Katolik)

Sakramen, sebagaimana difahami oleh Gereja katolik, adalah tanda yang terlihat, yang dapat ditangkap oleh panca indera, yang dilembagakan oleh Yesus dan dipercayakan kepada Gereja, sebagai sarana yang dengannya rahmat ilahi diindikasikan oleh tanda yang diterimakan, yang membantu pribadi penerimanya untuk berkembang dalam kekudusan, dan berkontribusi kepada pertumbuhan Gereja dalam amal-kasih dan kesaksian.

Ketujuh Sakramen oleh Rogier van der Weyden, sekitar 1448.

Meskipun tidak semua pribadi menerima semua sakramen, sakramen-sakramen secara keseluruhan dipandang sebagai sarana penting bagi keselamatan umat beriman, yang menganugerahkan rahmat tertentu dari tiap sakramen tersebut, misalnya dipersatukan dengan Kristus dan Gereja, pengampunan dosa-dosa, atau pun pengkhususan (konsekrasi) untuk suatu pelayanan tertentu.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa efek dari suatu sakramen itu ada ex opere operato (oleh kenyataan bahwa sakramen itu dilayankan), tanpa memperhitungkan kekudusan pribadi pelayan yang melayankannya; kurang layaknya kondisi penerima untuk menerima rahmat yang dianugerahkan tersebut dapat menghalangi efektivitas sakramen itu bagi yang bersangkutan; sakramen memerlukan adanya iman, meskipun kata-kata dan elemen-elemen ritualnya, menyuburkan, menguatkan dan memberi ekspresi bagi iman (Kompendium Katekismus Gereja Katolik, 224).

Gereja katolik mengajarkan adanya tujuh sakramen, dan diurutkan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) sebagai berikut:

Penjelasan tiap sakramen tersebut berikut ini terutama didasarkan atas Kompendium Katekismus Gereja Katolik.

Daftar isi

[sembunyikan]

Sakramen-sakramen Inisiasi

Pembaptisan

Baptisterium (bejana/ruang/tempat pembaptisan) dalam Katedral St. Rafael, Dubuque, Iowa. Bejana khusus ini diperluas pada tahun 2005 untuk mencakup sebuah kolam kecil bagi pembaptisan selam orang dewasa, delapan sisi pada bejana melambangkan delapan jiwa yang terselamatkan oleh Bahtera Nuh.

Pembaptisan adalah sakramen pertama dan mendasar dalam inisiasi Kristiani. Sakramen ini dilayankan dengan cara menyelamkan si penerima ke dalam air atau dengan mencurahkan (tidak sekedar memercikkan) air ke atas kepala si penerima “dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus ” (Matius 28:19). Pelayan sakramen ini biasanya seorang uskup atau imam, atau (dalam Gereja Latin, namun tidak demikian halnya dalam Gereja Timur) seorang diakon.

Dalam keadaan darurat, siapapun yang berniat untuk melakukan apa yang dilakukan Gereja, bahkan jika orang itu bukanlah seorang Kristiani, dapat membaptis.

Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal serta semua dosa pribadi dan dari hukuman akibat dosa-dosa tersebut, dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui “rahmat yang menguduskan” (rahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Nya).

Pembaptisan juga membuat penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komuni (persekutuan) antar semua orang Kristen.

Pembaptisan menganugerahkan kebajikan-kebajikan “teologis” (iman, harapan dan kasih) dan karunia-karunia Roh Kudus. Sakramen ini menandai penerimanya dengan suatu meterai rohani yang berarti orang tersebut secara permanen telah menjadi milik Kristus.

Penguatan

Penguatan atau Krisma adalah sakramen ketiga dalam inisiasi Kristiani. Sakramen ini diberikan dengan cara mengurapi penerimanya dengan Krisma, minyak yang telah dicampur sejenis balsam, yang memberinya aroma khas, disertai doa khusus yang menunjukkan bahwa, baik dalam variasi Barat maupun Timurnya, karunia Roh Kudus menandai si penerima seperti sebuah meterai. Melalui sakramen ini, rahmat yang diberikan dalam pembaptisan “diperkuat dan diperdalam” (KGK 1303). Seperti pembaptisan, penguatan hanya diterima satu kali, dan si penerima harus dalam keadaan layak (artinya bebas dari dosa-maut apapun yang diketahui dan yang belum diakui) agar dapat menerima efek sakramen tersebut. Pelayan sakramen ini adalah seorang uskup yang ditahbiskan secara sah; jika seorang imam (presbiter) melayankan sakramen ini — sebagaimana yang biasa dilakukan dalam Gereja-Gereja Timur dan dalam keadaan-keadaan istimewa (seperti pembabtisan orang dewasa atau seorang anak kecil yang sekarat) dalam Gereja Ritus-Latin (KGK 1312–1313) — hubungan dengan jenjang imamat di atasnya ditunjukkan oleh minyak (dikenal dengan nama krisma atau myron) yang telah diberkati oleh uskup dalam perayaan Kamis Putih atau pada hari yang dekat dengan hari itu. Di Timur sakramen ini dilayankan segera sesudah pembaptisan. Di Barat, di mana administrasi biasanya dikhususkan bagi orang-orang yang sudah dapat memahami arti pentingnya, sakramen ini ditunda sampai si penerima mencapai usia awal kedewasaan; biasanya setelah yang bersangkutan diperbolehkan menerima sakramen Ekaristi, sakramen ketiga dari inisiasi Kristiani. Kian lama kian dipulihkan urut-urutan tradisional sakramen-sakramen inisiasi ini, yakni diawali dengan pembaptisan, kemudian penguatan, barulah Ekaristi.

Ekaristi

Ekaristi adalah sakramen (yang kedua dalam inisiasi Kristiani) yang dengannya umat Katolik mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus serta turut serta dalam pengorbanan diri-Nya. Aspek pertama dari sakramen ini (yakni mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus) disebut pula Komuni Suci. Roti (yang harus terbuat dari gandum, dan yang tidak diberi ragi dalam ritus Latin, Armenia dan Ethiopia, namun diberi ragi dalam kebanyakan Ritus Timur) dan anggur (yang harus terbuat dari buah anggur) yang digunakan dalam ritus Ekaristi, dalam iman Katolik, ditransformasi dalam segala hal kecuali wujudnya yang kelihatan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, perubahan ini disebut transubstansiasi. Hanya uskup atau imam yang dapat menjadi pelayan Sakramen Ekaristi, dengan bertindak selaku pribadi Kristus sendiri. Diakon serta imam biasanya adalah pelayan Komuni Suci, umat awam dapat diberi wewenang dalam lingkup terbatas sebagai pelayan luar biasa Komuni Suci. Ekaristi dipandang sebagai “sumber dan puncak” kehidupan Kristiani, tindakan pengudusan yang paling istimewa oleh Allah terhadap umat beriman dan tindakan penyembahan yang paling istimewa oleh umat beriman terhadap Allah, serta sebagai suatu titik dimana umat beriman terhubung dengan liturgi di surga. Betapa pentingnya sakramen ini sehingga partisipasi dalam perayaan Ekaristi (Misa) dipandang sebagai kewajiban pada setiap hari Minggu dan hari raya khusus, serta dianjurkan untuk hari-hari lainnya. Dianjurkan pula bagi umat yang berpartisipasi dalam Misa untuk, dalam kondisi rohani yang layak, menerima Komuni Suci. Menerima Komuni Suci dipandang sebagai kewajiban sekurang-kurangnya setahun sekali selama masa Paskah.

Sakramen-sakramen Penyembuhan

Rekonsiliasi

Sakramen rekonsiliasi adalah yang pertama dari kedua sakramen penyembuhan, dan juga disebut Sakramen Pengakuan Dosa, Sakramen Tobat, dan Sakramen Pengampunan(KGK 1423–1424). Sakramen ini adalah sakramen penyembuhan rohani dari seseorang yang telah dibaptis yang terjauhkan dari Allah karena telah berbuat dosa. Sakramen ini memiliki empat unsur: penyesalan si peniten (si pengaku dosa) atas dosanya (tanpa hal ini ritus rekonsiliasi akan sia-sia), pengakuan kepada seorang imam (boleh saja secara spirutual akan bermanfaat bagi seseorang untuk mengaku dosa kepada yang lain, akan tetapi hanya imam yang memiliki kuasa untuk melayankan sakramen ini), absolusi (pengampunan) oleh imam, dan penyilihan.

“Banyak dosa yang merugikan sesama. Seseorang harus melakukan melakukan apa yang mungkin dilakukannya guna memperbaiki kerusakan yang telah terjadi (misalnya, mengembalikan barang yang telah dicuri, memulihkan nama baik seseorang yang telah difitnah, memberi ganti rugi kepada pihak yang telah dirugikan). Keadilan yang sederhana pun menuntut yang sama. Akan tetapi dosa juga merusak dan melemahkan si pendosa sendiri, serta hubungannya dengan Allah dan sesama. Si pendosa yang bangkit dari dosa tetap harus memulihkan sepenuhnya kesehatan rohaninya dengan melakukan lagi sesuatu untuk memperbaiki kesalahannya: dia harus ‘melakukan silih bagi’ atau ‘memperbaiki kerusakan akibat’ dosa-dosanya. Penyilihan ini juga disebut ‘penitensi'” (KGK 1459). Pada awal abad-abad Kekristenan, unsur penyilihan ini sangat berat dan umumnya mendahului absolusi, namun sekarang ini biasanya melibatkan suatu tugas sederhana yang harus dilaksanakan oleh si peniten, untuk melakukan beberapa perbaikan dan sebagai suatu sarana pengobatan untuk menghadapi pencobaan selanjutnya.

Imam yang bersangkutan terikat oleh “meterai pengakuan dosa”, yang tak boleh dirusak. “Oleh karena itu, benar-benar salah bila seorang konfesor (pendengar pengakuan) dengan cara apapun mengkhianati peniten, untuk alasan apapun, baik dengan perkataan maupun dengan jalan lain” (kanon 983 dalam Hukum Kanonik). Seorang konfesor yang secara langsung merusak meterai sakramental tersebut otomatis dikenai ekskomunikasi (hukuman pengucilan) yang hanya dapat dicabut oleh Tahta Suci (kanon 1388).

Pengurapan Orang Sakit

Pengurapan Orang Sakit adalah sakramen penyembuhan yang kedua. Dalam sakramen ini seorang imam mengurapi si sakit dengan minyak yang khusus diberkati untuk upacara ini. “Pengurapan orang sakit dapat dilayankan bagi setiap umat beriman yang, karena telah mencapai penggunaan akal budi, mulai berada dalam bahaya yang disebabkan sakit atau usia lanjut” (kanon 1004; KGK 1514). Baru menderita sakit ataupun makin memburuknya kondisi kesehatan membuat sakramen ini dapat diterima berkali-kali oleh seseorang.

Dalam tradisi Gereja Barat, sakramen ini diberikan hanya bagi orang-orang yang berada dalam sakratul maut, sehingga dikenal pula sebagai “Pengurapan Terakhir”, yang dilayankan sebagai salah satu dari “Ritus-Ritus Terakhir”. “Ritus-Ritus Terakhir” yang lain adalah pengakuan dosa (jika orang yang sekarat tersebut secara fisik tidak memungkinkan untuk mengakui dosanya, maka minimal diberikan absolusi, yang tergantung pada ada atau tidaknya penyesalan si sakit atas dosa-dosanya), dan [[Ekaristi[[, yang bilamana dilayankan kepada orang yang sekarat dikenal dengan sebutan “Viaticum“, sebuah kata yang arti aslinya dalam bahasa Latin adalah “bekal perjalanan”.

Sakramen-sakramen Panggilan

Imamat

Imamat atau Pentahbisan adalah sakramen yang dengannya seseorang dijadikan uskup, imam, atau diakon, sehingga penerima sakramen ini dibaktikan sebagai citra Kristus. Hanya uskup yang boleh melayankan sakramen ini.

Pentahbisan seseorang menjadi uskup menganugerahkan kegenapan sakramen Imamat baginya, menjadikannya anggota badan penerus (pengganti) para rasul, dan memberi dia misi untuk mengajar, menguduskan, dan menuntun, disertai kepedulian dari semua Gereja.

Pentahbisan seseorang menjadi imam mengkonfigurasinya menjadi Kristus selaku Kepala Gereja dan Imam Agung, serta menganugerahkan baginya kuasa, sebagai asisten uskup yang bersangkutan, untuk merayakan sakramen-sakramen dan kegiatan-kegiatan liturgis lainnya, teristimewa Ekaristi.

Pentahbisan seseorang menjadi diakon mengkonfigurasinya menjadi Kristus selaku Hamba semua orang, menempatkan dia pada tugas pelayanan uskup yang bersangkutan, khususnya pada Kegiatan Gereja dalam mengamalkan cinta-kasih Kristiani terhadap kaum papa dan dalam memberitakan firman Allah.

Orang-orang yang berkeinginan menajdi imam dituntut oleh Hukum Kanonik (Kanon 1032 dalam Kitab Hukum Kanonik) untuk menjalani suatu program seminari yang selain berisi studi filsafat dan teologi sampai lulus, juga mencakup suatu program formasi yang meliputi pengarahan rohani, berbagai retreat, pengalaman apostolat (semacam Kuliah Kerja Nyata), dst. Proses pendidikan sebagai persiapan untuk pentahbisan sebagai diakon permanen diatur oleh Konferensi Wali Gereja terkait.

Pernikahan

Pernikahan atau Perkawinan, seperti Imamat, adalah suatu sakramen yang mengkonsekrasi penerimanya guna suatu misi khusus dalam pembangunan Gereja, serta menganugerahkan rahmat demi perampungan misi tersebut. Sakramen ini, yang dipandang sebagai suatu tanda cinta-kasih yang menyatukan Kristus dengan Gereja, menetapkan di antara kedua pasangan suatu ikatan yang bersifat permanen dan eksklusif, yang dimeteraikan oleh Allah. Dengan demikian, suatu pernikahan antara seorang pria yang sudah dibaptis dan seorang wanita yang sudah dibaptis, yang dimasuki secara sah dan telah disempurnakan dengan persetubuhan, tidak dapat diceraikan sebab di dalam kitab suci tertulis Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: ”Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.” (Mrk. 10:1–12)

Sakramen ini menganugerahkan kepada pasangan yang bersangkutan rahmat yang mereka perlukan untuk mencapai kekudusan dalam kehidupan perkawinan mereka serta untuk menghasilkan dan mengasuh anak-anak mereka dengan penuh tanggung jawab. Sakramen ini dirayakan secara terbuka di hadapan imam (atau saksi lain yang ditunjuk oleh Gereja) serta saksi-saksi lainnya, meskipun dalam tradisi teologis Gereja Latin yang melayankan sakramen ini adalah kedua pasangan yang bersangkutan.

Demi kesahan suatu pernikahan, seorang pria dan seorang wanita harus mengutarakan niat dan persetujuan-bebas (persetujuan tanpa paksaan) masing-masing untuk saling memberi diri seutuhnya, tanpa memperkecualikan apapun dari hak-milik esensial dan maksud-maksud perkawinan. Jika salah satu dari keduanya adalah seorang Kristen non-Katolik, maka pernikahan mereka hanya dinyatakan sah jika telah memperoleh izin dari pihak berwenang terkait dalam Gereja Katolik. Jika salah satu dari keduanya adalah seorang non-Kristen (dalam arti belum dibaptis), maka diperlukan izin dari pihak berwenang terkait demi sahnya pernikahan.

Validitas dan keabsahan pelayanan sakramen-sakramen

Sebagaimana dijelaskan di atas, efek dari sakramen-sakramen timbul ex opere operato (oleh kenyataan bahwa sakramen-sakramen tersebut dilayankan). Karena Kristus sendiri yang bekerja melalui sakramen-sakramen, maka efektivitas sakramen-sakramen tidak tergantung pada kelayakan si pelayan.

Meskipun demikian, sebuah pelayanan sakramen yang dapat dipersepsi akan invalid, jika orang yang bertindak selaku pelayan tidak memiliki kuasa yang diperlukan untuk itu, misalnya jika seorang diakon merayakan Misa. Sakramen-sakramen juga invalid jika “materi” atau “formula”nya kurang sesuai dari pada yang seharusnya. Materi adalah benda material yang dapat dipersepsi, seperti air (bukannya anggur) dalam pembaptisan atau roti dari tepung gandum dan anggur dari buah anggur (bukannya kentang dan bir) untuk Ekaristi, atau tindakan yang nampak. Formula adalah pernyataan verbal yang menyertai pemberian materi, seperti (dalam Gereja Barat), “N., Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”. Lebih jauh lagi, jika si pelayan positif mengeluarkan beberapa aspek esensial dari sakramen yang dilayankannya, maka sakramen tersebut invalid. Syarat terakhir berada di balik penilaian Tahta Suci pada tahun 1896 yang menyangkal validitas imamat Anglikan.

Sebuah sakramen dapat dilayankan secara valid, namun tidak sah, jika suatu syarat yang diharuskan oleh hukum tidak dipenuhi. Kasus-kasus yang ada misalnya pelayanan sakramen oleh seorang imam yang tengah dikenai hukuman ekskomunikasi atau suspensi, dan pentahbisan uskup tanpa mandat dari Sri Paus.

Hukum kanonik merinci halangan-halangan (impedimenta) untuk menerima sakramen imamat dan pernikahan. Halangan-halangan sehubungan dengan sakramen imamat hanya menyangkut soal keabsahannya, tetapi “suatu halangan yang bersifat membatalkan dapat menjadikan seseorang tidak berkapasitas untuk secara valid untuk mengikat suatu janji pernikahan” (kanon 1073).

Dalam Gereja Latin, hanya Tahta Suci yang secara otentik dapat mengeluarkan pernyataan bilamana hukum ilahi melarang atau membatalkan suatu pernikahan, dan hanya Tahta Suci yang berwenang untuk menetapkan bagi orang-orang yang sudah dibaptis halangan-halangan pernikahan (kanon 1075). Adapun masing-masing Gereja Katolik Ritus Timur, setelah memenuhi syarat-syarat tertentu termasuk berkonsultasi dengan (namun tidak harus memperoleh persetujuan dari) Tahta Suci, dapat menetapkan halangan-halangan (Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur, kanon 792).

Jika suatu halangan timbulnya hanya karena persoalan hukum Gerejawi belaka, dan bukannya menyangkut hukum ilahi, maka Gereja dapat memberikan dispensasi dari halangan tersebut.

Syarat-syarat bagi validitas pernikahan seperti cukup umur (kanon 1095) serta bebas dari paksaan (kanon 1103), dan syarat-syarat bahwa, normalnya, mengikat janji pernikahan dilakukan di hadapan pejabat Gereja lokal atau imam paroki atau diakon yang mewakili mereka, dan di hadapan dua orang saksi (kanon 1108), tidaklah digolongkan dalam Hukum Kanonik sebagai halangan, tetapi sama saja efeknya.

Ada tiga sakramen yang tidak boleh diulangi: Pembaptisan, Penguatan dan Imamat: efeknya bersifat permanen. Ajaran ini telah diekspresikan di Barat dengan citra-citra dari karakter atau tanda, dan di Timur dengan sebuah meterai (KGK 698). Akan tetapi, jika ada keraguan mengenai validitas dari pelayanan satu atau lebih sakramen-sakramen tersebut, maka dapat digunakan suatu formula kondisional pemberian sakramen misalnya: “Jika engkau belum dibaptis, aku membaptis engkau …”

Para Pelayan-Sakramen Biasa dan Luar Biasa

Para Pelayan Sakramen dalam Gereja Katolik
Sakramen Pelayan Biasa Pelayan Luar Biasa
Pembaptisan uskup, imam atau diakon; tetapi biasanya dikhususkan bagi imam paroki setempat umat awam yang didelegasikan oleh uskup, atau siapapun dalam keadaan darurat
Penguatan uskup, vikaris jendral (vikjen) atau (dalam Gereja Katolik Ritus Timur) imam (dalam Gereja Barat) imam yang diberikan wewenang oleh hukum Gereja atau izin khusus
Ekaristi uskup atau imam tidak ada
Ekaristi (pembagian) – Komuni Suci uskup, imam, atau diakon akolit yang diberi wewenang (jika klerus tidak mencukupi)
umat awam (jika klerus atau akolit tidak mencukupi)
Ekaristi (pengunjukan) uskup, imam, atau diakon pelayan luar biasa Komuni Suci atau orang lain yang ditunjuk oleh pejabat gereja lokal
Rekonsiliasi uskup atau imam tidak ada
Pengurapan orang sakit uskup atau imam tidak ada
Imamat Uskup (untuk alasan keabsahan, sekurang-kurangnya harus ada tiga orang uskup dalam suatu pentahbisan uskup) tidak ada
Pernikahan suami dan isteri (tradisi Barat); imam yang bertugas (tradisi Timur) tidak ada

Pranala luar

Misa

Posted: 17 September 2011 in KATOLIK

Misa adalah perayaan ekaristi dalam ritus liturgi Barat dari Gereja Katolik Roma, tradisi Anglo-Katolik dalam Gereja Anglikan, dan beberapa Gereja Lutheran. Di negara-negara Baltik dan Skandinavia, ibadah ekaristi Gereja Lutheran juga disebut “Misa”.

Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno missa yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi “Ite, missa est” (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata “Marilah pergi. Kita diutus.”[1]

Edisi terakhir (2002) dari Missale Romanum

Perayaan Ekaristi dalam Gereja-Gereja Timur, termasuk Gereja-Gereja Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Tahta Suci Roma menggunakan istilah lain, misalnya Liturgi Suci, Qurbana Kudus, dan Badarak. Denominasi Barat yang tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik Roma, seperti Kekristenan Calvinis, biasanya lebih suka menggunakan istilah lain.

Menurut Lima Perintah Gereja umat Katolik diwajibkan mengikuti misa pada hari Minggu dan hari raya lain yang disetarakan dengan hari Minggu. Di luar hari-hari itu juga diselenggarakan misa – yang oleh umat Katolik biasa dinamakan misa harian – namun umat Katolik tidak diwajibkan untuk ikut serta.

Pelaksanaan Misa diatur berdasar Tata Perayaan Ekaristi (TPE). TPE Baru untuk Gereja Katolik di Indonesia diberlakukan (dipromulgasikan) sejak Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 2005, pada hari Minggu 29 Mei 2005. TPE sebelumnya — yang digunakan sejak tahun 1977 — merupakan edisi percobaan. Dalam TPE Baru Doa Syukur Agung dan doa presidensial lain didoakan oleh Imam dan umat mengikutinya dalam batin (untuk menekankan kekhusyukan dan kesadaran akan Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka), seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik di tempat lain.

Daftar isi

[sembunyikan]

Tata Perayaan Ekaristi

Pembukaan

  1. Perarakan Pastor/Imam Selebran dan pelayan lainnya menuju altar diiringi lagu pembukaan atau antifon pembukaan, pada hari raya dilakukan pendupaan.
  2. Tanda salib
  3. Salam pembukaan dan Pengantar
    • Perayaan ekaristi diawali dengan salam “Tuhan sertamu” (Dominus vobiscum) dan dijawab umat dengan “Dan sertamu juga” (Et cum spiritu tuo). Rumusan lainnya juga dipergunakan pada hari raya, ataupun pada misa biasa.
    • Pengantar digunakan untuk mengarahkan umat pada inti dan misteri perayaan.
  4. Doa Tobat dan pernyataan Tuhan Kasihanilah Kami
    • Dapat menggunakan rumusan umum Doa Tobat dilanjutkan dengan Tuhan Kasihanilah Kami
    • Dapat juga menggunakan rumusan pujian kepada Yesus dan memohon belas kasih-Nya yang dipadukan dengan Tuhan Kasihanilah Kami
    • Dapat juga menggunakan pemercikan air suci sebagai peringatan akan pembaptisan
    • Diakhiri dengan seruan absolusi “Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal” yang dijawab umat dengan “Amin”
  5. Madah Kemuliaan
    • Kemuliaan hanya diucapkan/dinyanyikan pada hari Minggu dan hari raya yang disetarakan dengan hari Minggu, di luar masa Prapaskah dan Adven
  6. Doa Pembuka

Liturgi Sabda

  • Pada hari Minggu atau Hari Raya, dibacakan tiga bacaan dari kitab suci. Pada hari biasa, dibacakan dua bacaan saja.
  1. Bacaan Pertama
    • Bila terdapat tiga bacaan maka Bacaan Pertama diambil dari Perjanjian Lama atau Kisah Para Rasul pada masa Paskah. Bila hanya dua bacaan pada hari biasa, Bacaan Pertama diambil dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru selain Injil
    • Pada akhir bacaan, Lektor menutup dengan rumusan “Demikianlah sabda Tuhan” dan umat menjawab dengan “Syukur kepada Allah”
  2. Mazmur Antar Bacaan
    • Pemazmur mendaraskan refren dan ayat-ayat Mazmur dan umat mengulang bagian refren
  3. Bacaan Kedua, dari Perjanjian Baru selain Injil atau Wahyu Yohanes
    • Pada akhir bacaan, Lektor menutup dengan rumusan “Demikianlah sabda Tuhan” dan umat menjawab dengan “Syukur kepada Allah”
  4. Alleluya
  5. Bacaan Injil
    • Bacaan Injil diambil dari ketiga Injil Sinoptik berdasarkan tiga Tahun Liturgi diselingi dengan Injil Yohanes
    • Injil hanya dibacakan oleh imam atau diakon tertahbis, tidak oleh umat biasa.
    • Bila Injil dibacakan oleh diakon, ia akan meminta berkat terlebih dahulu pada pastor/imam. Bila Injil dibacakan oleh imam sementara misa dipimpin oleh uskup, maka imam juga akan meminta berkat kepada uskup
    • Bacaan diawali dengan salam “Tuhan sertamu” (Dominus vobiscum) dan dijawab umat dengan “Dan sertamu juga” (Et cum spiritu tuo)
    • Salam dilanjutkan dengan “Inilah Injil Yesus Kristus menurut (Matius/Markus/Lukas/Yohanes)” dan umat menjawab dengan “dimuliakanlah Tuhan” sambil membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada. Pada hari raya, Injil didupai.
    • Seusai pembacaan Injil, dinyatakan Aklamasi Injil dengan ucapan “Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya” dan umat menjawab dengan “Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.”
    • Dalam perayaan meriah, kalau dianggap baik, Uskup memberkati Umat dengan Evangeliarium (buku Bacaan Injil).
  6. Homili
  7. Syahadat atau Kredo
  8. Doa Umat
    • Ujud-ujud doa dibawakan oleh diakon atau lektor lalu pembaca doa umat tersebut mengakhiri setiap doanya dengan mengucapkan “Marilah kita mohon” umat menjawab “Kabulkanlah doa kami ya Tuhan atau Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.”
    • Dalam perayaan meriah, seluruh Doa Umat dan aklamasinya dapat dinyanyikan.

Liturgi Ekaristi

  1. Persiapan Persembahan
    • Diawali dengan kolekte
    • Wakil-wakil umat menghantar bahan-bahan persembahan: roti dan anggur yang akan dikuduskan, dan persembahan lain untuk keperluan Gereja
    • Dalam misa sederhana, roti dan anggur dapat sudah berada di bagian lain dari altar
    • Roti hosti terbuat dari gandum tanpa ragi, diletakkan dalam piala, diletakkan di atas patena dan ditutup dengan korporal
    • Anggur, dipersembahkan dalam ampul terpisah dengan air
  2. Penghunjukkan Persembahan
    • Selebran mengatur susunan piala dan patena di atas korporal, kemudian mencampurkan beberapa tetes air ke dalam anggur dalam piala
    • Selebran menghunjukkan hosti sambil mengucapkan rumusan “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan” dan umat menjawab “Terpujilah Allah selama-lamanya”
    • Kemudian selebran mengangkat piala berisi campuran air dan anggur sambil mengucapkan rumusan “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima anggur yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari pohon anggur dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani” dan umat menjawab “Terpujilah Allah selama-lamanya”
    • Pada misa hari raya selebran mendupai persembahan dan altar. Misdinar lalu mendupai selebran dan umat lainnya.
  3. Doa Persiapan Persembahan
    • Selebran mengucapkan doa persembahan dengan ajakan “Berdoalah, saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang mahakuasa” dan umat menjawab dengan “Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus”
  4. Prefasi
    • Prefasi diawali dengan salam “Tuhan sertamu” (Dominus vobiscum) dan dijawab umat dengan “Dan sertamu juga” (Et cum spiritu tuo) dan dilanjutkan dengan dialog “Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan” yang dijawab dengan “Sudah kami arahkan” dan “Marilah bersyukur kepada Allah Tuhan kita” yang dijawab dengan “Sudah layak dan sepantasnya”
    • Prefasi selanjutnya dinyanyikan/didoakan oleh selebran dan disambung dengan syair aklamasi Kudus dengan rumusan “Kami melambungkan madah kemuliaan dengan tak henti-hentinya bernyanyi/berdoa”
  5. Kudus
    • Kudus atau Sanctus dapat diucapkan atau dinyanyikan
  6. Doa Syukur Agung
    • Doa Syukur Agung diucapkan (atau dinyanyikan) oleh selebran saja.
    • Bagian pertama Doa Syukur Agung berisi doa permohonan agar Roh Kudus menguduskan roti dan anggur
    • Bagian terpenting dalam Doa Syukur Agung adalah kisah institusi dan konsekrasi, yaitu perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus secara transsubstansial.
    • Kisah Institusi mengutip ucapan Yesus pada Perjamuan Terakhir yaitu “Terimalah dan makanlah. Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu” dan “Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan semua orang demi pengampunan kekal. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku.” Kalimat “lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku” -lah yang menjadi dasar terselenggaranya Perayaan Ekaristi
    • Seusai konsekrasi diucapkan/dinyanyikan aklamasi anamnesis, menyatakan tiga misteri iman Kristen: kematian Kristus, kebangkitan Kristus dan kedatanganNya kembali.
    • Seusai anamnesis, doa syukur agung dilanjutkan dengan doa dengan ujud khusus: bagi arwah para santo dan santa maupun umat biasa, doa bagi Paus dan uskup setempat
  7. Doksologi
    • Doa Syukur Agung ditutup dengan Doksologi dengan selebran mengangkat piala dan hosti sambil mengucapkan “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa” dan umat berkata “Amin”. Jikalau Doa Syukur Agung ini dinyanyikan, maka “Amin” dinyanyikan. (TPE 2005)

Komuni

  1. Doa Bapa Kami
    • Doa Bapa Kami dapat diucapkan atau dinyanyikan
    • Selebran dapat menambahkan embolisme pada akhir Doa Bapa Kami dengan ucapan “Ya Bapa bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan berilah kami damai-Mu. Kasihanilah dan bantulah kami, supaya kami dapat hidup dengan rukun, sehingga kami dapat hidup dengan tenteram, sambil mengharapkan kedatangan penyelamat kami Yesus Kristus” dan umat menjawabnya dengan “Sebab Engkaulah Raja, yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin”
  2. Doa Damai
    • Selebran mendoakan doa mohon damai diakhiri dengan kata-kata “Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa” Umat menjawab: Amin. Kemudian mengucapkan “Damai Tuhan sertamu” yang dijawab dengan “Dan sertamu juga” dan dapat diikuti dengan ungkapan, misalnya dengan memberikan salam damai, menjabat tangan orang-orang yang ada di sekitar, atau ungkapan lain yang sesuai
  3. Pemecahan hosti
  4. Komuni
    • Komuni diawali dengan selebran mengangkat tinggi hosti dan piala anggur yang telah dikonsekrasikan sambil mengucapkan “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuannya” dan umat menjawab “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”, kemudian Imam berkata “Tubuh dan Darah Kristus”, dan ditanggapi oleh umat dengan berkata “Amin”.
    • Selanjutnya selebran menerima komuninya, kemudian memberikannya pada pelayan petugas pembagi komuni, kemudian kepada para petugas altar dan misdinar dan kemudian kepada umat lainnya.
    • Umat dapat menerima komuni dalam satu rupa atau dua rupa dalam kesempatan khusus. Ajaran iman Gereja Katolik mengajarkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara satu rupa maupun dua rupa. Dalam Tubuh Kristus terdapat pula Darah Kristus.
    • Pembagi komuni akan mengucapkan “Tubuh Kristus” (Corpus Christi) dan penerima komuni menjawab “Amin” (Amen) dengan sikap hormat.

Penutup

  1. Antifon Komuni
  2. Doa Sesudah Komuni
    • Sesudah doa sesudah komuni pengumuman dapat dibacakan, ataupun pengumuman dapat dibacakan sebelum doa sesudah komuni, tergantung kebiasaan imam yang memimpin misa tersebut.
  3. Berkat dan pengutusan
    • Berkat diawali dengan salam “Tuhan sertamu” (Dominus vobiscum) atau “Tuhan bersamamu” dan dijawab umat dengan “Dan sertamu juga” (Et cum spiritu tuo) atau “dan sertamu juga”
    • Ada pula bentuk berkat meriah dengan tiga ayat permohonan berkat bagi umat yang masing-masing dijawab dengan “Amin”
    • Ada bentuk berkat sederhana dengan selebran merentangkan tangan ke arah umat dan memberkati dengan tanda salib dengan seruan “Semoga Saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa: Bapa, Putra dan Roh Kudus” sementara umat membuat tanda salib dan menjawab “Amin”
    • Kemudian Imam mengatakan “Dengan ini perayaan Ekaristi sudah selesai, marilah kita membawa damai Tuhan”, lalu umat berkata “Syukur kepada Allah”.
    • Bentuk pengutusan adalah kalimat “Marilah pergi. Kita diutus.”, yang dijawab umat dengan “Amin”
  4. Perarakan keluar
    • Seluruh umat memberi hormat kepada altar. Imam dan para pelayan meninggalkan altar, dan diarak dengan diringi nyanyian atau lagu ataupun secara instrumental.

Referensi

  1. ^ Missa adalah kata Latin kuno yang searti dengan kata Latin klasik missio (The Liturgy of the Mass di Catholic Encyclopedia). “Secara harafiah missa artinya ‘pembubaran’. Akan tetapi dalam Kekristenan lama-kelamaan kata missa dimaknai secara lebih mendalam. Kata ‘pembubaran’ dikaitkan dengan pengembanan suatu ‘misi’. Kata ini mengekspresikan sifat misioner dari Gereja” (Pope Benedict XVI, Sacramentum caritatis, 51).

Doa Tobat

Posted: 17 September 2011 in DOA

Allah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan mahabaik bagiku.
Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku da tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang maha-murah, ampunilah aku, orang berdosa. (Amin.)

Salam Maria

Posted: 17 September 2011 in DOA

Bahasa Indonesia

Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati
Amen.

Bahasa Jawa (Sembah Bekti)

Sembah bekti kawula Dewi Maria kekasihing Allah,
Pangeran nunggil ing Panjenengan dalem
Sami-sami wanita sang Dewi pinuji piyambak
Saha pinuji ugi wohing Salira Dalem Sri Yesus
Dewi Maria ibuning Allah
Kawula tiyang dosa sami nyuwun pangestu dalem
samangke tuwin benjing dumugining pejah
Amin.

Bahasa Latin

Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
benedicta tu in mulieribus,
et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen

Bahasa Inggris

Hail Mary, full of Grace,
The Lord is with thee;
Blessed art thou among women,
and blessed is the fruit
of thy womb, Jesus.
Holy Mary, Mother of God,
pray for us sinners,
now and at the hour of our death.
Amen.

Bahasa Portugis

Ave, Maria, cheia de graça,
o Senhor é convosco.
Bendita sois vós entre as mulheres,
e bendito é o fruto do vosso ventre, Jesus.
Santa Maria, Mãe de Deus,
rogai por nós, pecadores, agora e na hora da nossa morte.
Amém.